Senin, 17 April 2017

Tiga Inti Kebahagiaan

1 Comment

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

          Dalam kehidupan, kita pasti akan mengalami yang namanya suka-duka, senang-sedih, tertawa-menangis, mendapat kemudahan maupun kesulitan, semua itu merupakan bumbu yang diberikan Allah SWT kepada kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tak ada satupun manusia yang selamanya hidup dalam kesenangan, namun ada saatnya diberi ujian yang menyedihkan, sesuatu itu pasti akan berubah, karena dunia terus berputar sampai pada batas waktu Allah menghentikan semuanya.

          Semua umat manusia pasti menginginkan yang namanya kebahagiaan, benar tidak Sahabat Muslim? Tentu saja setiap orang tidak mau mengalami kesulitan, kita sendiri pasti merasakannya bukan?, begitu juga dengan penulis artikel ini mengalami berbagai kesulitan. Tapi sahabat muslim, walaupun kita sedang dilanda kesuliatan, ada caranya lho agar kita bisa merasakan suatu kebahagiaan, mau tau caranya bagaimana? Simak penjelasan dibawah yaa..

          Menurut Imam Ibnul Qoyyim, ada tiga inti kebahagiaan, jika kita bisa menerapkannya dalam kehidupan, Insya Allah hidup kita senantiasa akan mendapat kebahagiaan :

1.     Apabila mendapat nikmat Bersyukur

Tak ada keberhasilan tanpa usaha, usaha tanpa doa adalah kesombongan. Dua kata “usaha” dan “doa”  merupakan dua hal yang harus saling melengkapi, karena keberhasilah yang didapat setiap orang tidak luput dari pertolongan Allah SWT. Jika kita ingin hidup bahagia, maka keberhasilan/kenikmatan yang kita dapatkan haruslah disyukuri. Sesuai firman Allah yang telah  memerintahkan kita untuk bersyukur :

“Maka dari itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya akau Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Q.S. Al-Baqoroh:152)

Jika kita senantiasa bersyukur, merasa cukuo dengan apa yang Allah berikan kepada kita, insya Alloh hidup kita senantiasa akan merasa bahagia.

2.     Apabila diuji bersabar

Tak ada manusia yang luput dari ujian Alloh SWT. Ujian itu ada dua hal, yaitu kenikmatan dan kesulitan.  Jika kita diberi ujian berupa kenikmatan, kita harus bersyukur dan tidak boleh mengingkari kenikmatan yang telah Allah berikan. Sedangkan jika kita diberi ujian berupa kesulitan, kesengsaraan dan musibah kita diperintahkan untuk bersabar. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan teteaplah bersiap siaga (diperbatasan negri kalian) dan bertakwalah kepada Allah suapaya kalian beruntung” (Q.S. Ali Imron : 200)

Selain memag sudah perintah dari Alloh SWT agar kita bisa bersabar, namun dengan kesabaran tersebut kita akan mendapatkan pahala dari Alloh SWT.

“Sesunggunhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Q.S.Az Zumar : 10)

3.     Apabila berbuat dosa Bertaubat

Tak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan, karena manusia diciptakan dengan nafsu baik maupun buruk, namun sebaik-baiknya manusia yang berbuat dosa ialah yang mau mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada Allah serta berjanji tidak akan melakukan dosa tersebut. Karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (Q.S.Al-Baqoroh : 222)

Sahabat Muslim, jika kita selalu mengeluh karena merasa kesulitan dan menginginkan kebahagiaan. Apakah kita sudah menerapkan tiga unsur penting diatas tadi? Apakah kita sudah bersyukur, bersabar dan bertaubat? Mulailah dari sekarang sahabat kita sama-sama belajar untuk bisa menerapkan 3 unsur penting diatas tadi agar hidup kita senantiasa mendapatkan kebahagiaan dari Allah SWT. Walaupun bukan dengan hal-hal yang mewah dan wah, namun dengan kesederhanaan dan kecukupan sudah bisa membuat kita bahagia. Karena kebahagiaan itu sederhana tak perlu mewah.

Sumber :
Aziz, Jum’ah Amin Abdul. 2015. Fiqih Dakwah. Solo : PT Era Adicitra Itermedia.

Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Minggu, 16 April 2017

Bahaya Sifat Riya

0 Comments
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah

Dalam artikel edisi kali ini, penulis akan sedikit membahas tentang sifat “RIYA”

Riya dalam islam adalah mengerjakan suatu amal perbuatan tidak dengan didasari karena Allah melainkan agar dilihat dan dipuji oleh orang lain. Dalam bahasa sehari-hari kita, kata riya biasa disebut dengan istilah pamer. Seseorang yang didalam hatinya mempunyai penyakit riya biasanya orang tersebut sering memperlihatkan apa-apa yang ia miliki.  Namun terkadang kita tidak bisa menilai seseorang riya karena yang bisa mengetahui riya tersebut hanyalah dirinya sendiri karena riya merupakan penyakit hati.

Namun, rosulullah SAW pernah bersabda, bahwasanya orang riya itu mempunyai tiga ciri:

“Orang yang riya berciri tiga, yakni apabila dihadapan orang dia giat, tetapi bila sendiri dia malas, dan selalu ingin mendapatkan pujian dalam segala urusan” (H.R. Ibnu Babawih)

Ada beberapa jenis riya lho sahabat muslim. Dalam sebuah artikel dijelaskan ada 2 jenis macam riya, yakni :

1.     Riya dunia

Orang yang mempunyai sifat riya dunia, biasanya berkaitan dengan harta, kedudukan, jabatan dalam pekerjaan, dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki sifat riya biasanya akan giat dalam melakukan pekerjaannya di dunia hanya karena mengejar pangkat, harta, dan kedudukan saja, namun tidak disertai karna Allah dan menyadari bahwasanya pekerjaan itu juga datangnya dari Allah SWT. Ketika seseorang yang berambisi ingin mengejar dunia, maka jika ambisinya itu tercapai, ia akan riya dan memamerkannya kepada orang lain serta ingin mendapatan pujian dari orang lain karena keberhasilannya, namun jika ambisinya tidak terpenuhi, ,maka ia akan merasa kecewa dan seperti yang dijelaskan dalam hadis diatas, ia akan bermalas-malasan.

2.     Riya ibadah

Orang yang mempunyai sifat riya, dalam beribadah pun tidak didasari lillahita’ala, namun karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain, misalnya orang tersebut rajin sholat ketika ada teman-temannya, bersedekah dengan memperlihatkannya agar dipuji oleh orang lain, naik haji hanya karena ingin dipanggil dengan sebutan Haji dan Hajjah.

Semua perbuatan yang tidak didasari karena Allah SWT tidak akan mendapatkan pahala melainkan akan mendapat balasan dari perbuatan buruknya. Nah sahabat Muslim, apakah kita sudah terhindar dari penyakit hati “riya” ini.? ataukah masih ada dalam hati kita sifat dimana kita ingin mendapat pujian dari orang lain?

Bahaya dari sifat “riya” ini adalah seperti ketika kita lalai dalam mengerjakan sholat lhoo. Seperti dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat (yaitu orang yang mengerjakan sholatnya dengan lalai dan riya dengan amal mereka….” (Q.S Al-Ma’un : 3-5)

Selain itu riya itu juga merupakan syirik kecil, seperti sebuah hadis yang meriwayatkan :

“Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil” (H.R.Ahmad dan Al Hakim)

Karena bahayanya sifat dari riya ini, bahkan ketika ada seseorang yang memuji walaupn kita tidak berniat untuk riya meminta pujiannya, kita diperintahkan untuk menaburkan pasir kewajah mereka ,seperti sabda Rosululloh SAW.
“Bila kamu melihat orang-orang yang memuji dan menyanjung-nyanjung, maka taburkanlah pasir kewajah-wajah mereka” (H.R.Ahmad)

Lalu sahabat Muslim bagaimana kita bisa terhindar dari penyakit hati tersebut?

Agar kita terhindar dari sifat riya, mulailah dari sekarang kita sandarkan segala amal perbuatan kita hanya karena Allah SWT. Kita hayati dan kita pahami syair dalam doa iftitah “Inna sholatii wanusukii wamahyaya wamamatii lillahi robbil’alamiin”, yang artinya “sesunguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah tuhan semesta alam”.

Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang terhindar dari penyakit hati “riya” tersebut. Ammin.


Sumber :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis tentang Akhlak Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 19 Maret 2017

Jauhilah Sifat Kikir

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah

Sifat kikir dalam kehidupan sehari-hari biasa kita menyebutnya dengan istilah pelit/bakhil. Orang yang memiliki sifat kikir biasanya dikarenakan memiliki kecintaan yang berlebihan terhadap harta keduniaannya.

Allah SWT dan Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk senantiasa menjauhi sifat kikir, karena sifat tersebut dapat membinasakan hidup kita sendiri, sebagaimana sifat tersebut telah membinasakan umat-umat terdahulu.

“Ittaqus Syuhha, Fainnahu ahlaka man kaana qoblakum”

“Jauhilah kekikiran. Sesungguhnya kekikiran itu telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu. (H.R. Muslim)

          Selain itu orang yang memiliki sift kikir/bakhil tidak akan bisa masuk kedalam surga. Seperti sebuah hadis yang meriwayatkan :

“La yadkhulul jannata bakhillun”

“Tidak akan masuk surga  orang yang bakhil” (H.R Muslim)

Nah, Sahabat Muslim, sudahkah kita membersihkan hati  dari sifat kikir,? Ataukah dalam hati kita masih ada satu titik hitam sifat kekikiran?

Taka ada manusia yang sempurna di dunia ini, sesempurna manusia adalah baginda Nabi Muhammad SAW yang memiliki uswatun hasanah “Suri Tauladan yang baik”, bahkan jika kita ingin melihat Akhlaq dari Nabi Muhammad SAW, maka lihatlah Al-Qur’an, sesungguhnya Akhlaq Nabi ada di Al-Qur’an yang memiliki berjuta kebaikan didalamnya. Namun, tidak ada salahnya jika kita berusaha untuk meneladani akhlaq beliau, malah kita sangat dianjurkan dan diperintahkan untuk bisa mencontoh sifat-sifat beliau.

“Sesungguhnya, adalah bagimu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, Yaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan keridhoan Allah dan balasan baik di hari akhirat, serta ia pula menyebut dan banyak mengingati Allah” (Q.S AL-AHZAB : 21)

Banyak diantara kita berprasangka, oraang yang pelit itu biasanya karena tidak mau memberikan sebagian harta miliknya kepada orang lain atau hanya sekedar membantu meringankan beban orang lain, namu Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwasanya sepelit-pelitnya orang adalah ketika di sebutnya Nama Nabi Muhammad tidak mau membalasnya dengan bacaan sholawat. Seperti sebuah hadis dibawah ini :

"Orang yang pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya, maka dia tidak bershalawat kepadaku." (HR. At-Tirmidzi)

Menjaukan diri dari sifat tercela memanglah tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun semua itu bisa kita iktiarkan dengan terus berusaha menjauhinya, adapun beberapa cara yang dapat kita lakukan agar kita bisa menjauhkan diri kita dari sifat kikir menurut Soleh Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Kumpulan Hadis Tentang Akhlaq Tercela” antara lain :

1.     Menyadari bahwa harta itu tidak akan dibawa mati
2.     Menyadari bahwa sifat kikir itu akan mengakibatkan dijauhi dan dikucilkan masyarakat
3.     Mempelajari ayat-ayat Al-qur’an yang berhubungan dengan tercelanya sifat kikir
4.     Menyantuni anak yatim piatu, fakir, miskin, dan orang-orang yang mengalami kesusahan.

Nah, sahabat Muslim, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dan  berusaha menjauhkan diri dari sifat kikir, karena ketika iman kita kuat maka sifat kikir tersebut akan lenyap, karena sifat kikir dan keimanan tidak akan pernah bersatu.

“Tidak akan berkumpul dalam hati seseorang hamba kekikiran dan keimanan” (H.R. Aththalayisi)

          Dan sebaliknya juga ketika kekikiran yang ada dalam hati kita, maka iman juga akan hilang dalam hati, maka dari itu marilah kita bersama-sama selalu mempertebal iman dalam diri kita. dan semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orng yang beruntung, Aamiin

Sumber :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis tentang Akhlak Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya.


Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam

Kewajiban Berdakwah

0 Comments


Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT

Islam adalah agama yang senantiasa mengajarkan kepada pemeluknya untuk beramar ma’ruf nahi munkar (mengajak/menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran), hal ini juga sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat islam untuk melakukan dakwah, seperti firman Allah SWT :

“kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah, sekiraya ahli kitab beriman tentulah itu lebih baik dari mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Q.S.Ali Imron : 110)

          Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda :

“Ballighu ‘annii walau ayat”
“Sampaikanlah dariku walau haya satu ayat” (H.R. Bukhari)

dari  penggalan ayat dan hadis diatas, menjelaskan bawasanya kita diperintahkan untuk menyampaikan ilmu yang kita punya walau hanya sedikit, beramar ma’ruf dan nahi munkar.

Untuk lebih mengenal istilah ”dakwah”, penulis akan sedikit menjelaskan tentang pengertian dakwah itu sendiri. Dakwah berasal dari bahasa arab yaitu dari kata Da’a-Yad’u-Da’wah yang memiliki arti menyeru/mengajak/menyuruh umat kepada yang ma’ruf (baik) dan mencegah dari yang mungkar (buruk).

Sahabat muslim, perlu kita ketahui bersama bahwa berdakwah tak selamanya harus berpicu pada pengajian yang harus kita sampaikan di forum-forum tausyiah, namun dakwah itu memiliki arti yang sangat luas, yakni dimana kita bisa melakukan hal yang baik dan melarang orang dari perberbuatan yang buruk, bahkan sekecil apa pun hal yang kita lakukan jika itu bermanfaat bagi banyak kalangan, maka kita sudah termasuk melakukan dakwah lho.

Sahabat Muslim, sudahkah kita berdakwah?

Di era seperti sekarang ini, teknologi semakin berkembang dengan pesatnya, kita sebagai umat Muslim tidak boleh tertinggal dong tentunya, dalam berdakwah kita juga di tuntut untuk bisa terus berlomba-lomba dalam kebaikan, istilah lainnya adalah “Fastabiqul khoirot”. Nah, bagi Sahabat Muslim yang mempunyai passion di bidang tertentu, jagan lupa ya untuk bisa dijadikan sarana atau media untuk berdakwah juga.

Lhaaa terus dalam bidang apa kita bisa berdakwah dan bagaimana cara melakukannya?

Nah, banyak cara yang dapat kita lakukan dong tentunya. Misalnya diantara Sahabat Muslim ada yang berada di bidang Pedidikan dan mempunyai passiaon mengajar, seperti sebagai Guru, Dosen, ataupun tutor lainnya. Kesempatan itu bisa dijadikan untuk berdakwah juga lho. Dalam dunia pendidikan tentunya banyak hal yang bermanfaat, Guru bisa menyampaikan ilmu kepada murid dan murid pun bisa menyerap ilmu dari materi apa yang telah Guru sampaikan.

          Selain itu jika ada diantara Sahabat Muslim ada yang memiliki hobby menulis, seperti menulis artikel, cerpen, puisi, dan lain sebagainya, hobby ini juga bisa dijadikan untuk berdakwah juga lhoo.

Dalam bidang kepenulisan istilah dakwah bisa disebut sebagai “Dakwah bil Qolam” yaitu “dakwah dengan Pena”. Dakwah dapat kita lakukan dengan membuat karya tulis yang bisa bermanfaat bagi masyarakat, misalnya kita membuat tulisan yang bertema religi, puisi islami, cerpen yang memiliki alur islami dan lain sebagainya.

Kemudian diantara Sahabat Muslim ada orang yang memiliki harta yang lebih dari cukup? Memiliki rumah yang mewah? Memiliki kendaraan yang banyak? Atau memiliki harta yang lainnya? Nah, Dalam urusan harta istilah dakwah bisa disbut juga dengan “Dakwah Bil Mall” yaitu “dakwah dengan Harta”. kita bisa menafkahkan harta kita di jalan Allah “Jihad fisabilillah” untuk membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim dan orang-orang yang kurang beruntung. Dan ingat Sahabat Muslim! ternyata semua harta yang kita miliki tidak sepenuhnya milik kita lho, namun ada sebagain harta kita yang wajib kita berikan kepada orang lain. Seperti firman Allah SWT :

 “Hai orang-orang yang beriman! Belanjakanlh (dijalan Allah) sebagian risky yang kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at dan orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang zalim” (Q.S Al-Baqoroh : 254)

 Lha lalu bagaimana jika kita termasuk orang dari golongan menengah kebawah?
Tenang sahabat muslim, sebagai orang yang tidak punya dan tidak mampu, kita tidak diwajibkan mengeluarkan harta kita, namun kita malah akan mendapatkan itu dari orang lain yang lebih mampu, misalnya zakat fitrah, orang yang mampu wajib mengeluarkan zakat, namun orang yang tidak mampu malah akan menerima zakat, dan itulah perintah Allah SWT kepada manusia untuk saling berbagi dan mengasihi antar sesama.

          Nah, Sahabat muslim, sebenarnya Dakwah itu sangat lah luas, namun karena keluasannya itu, kita tidak diperintahkan untuk memaksa orang lain untuk melakukan dakwah, karena dakwah sendiri artinya mengajak dan menyeru, kita hanya diperintahkan untuk mengajak dan mencontohkan saja, bukan memaksa orang lain untuk melakukannya.

          Dalam hadis lainnya juga jelaskan :
“Dari abu said al Khudri Ra berkata : “aku mendengar Rosululloh SAW bersabda : ‘Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, apabila dia tidak mampu maka hendaklah dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman” (H.R.Muslim)
          Dalam hadis diatas ada penjelasan tersirat, bahwasanya kita tidak diperkenankan untuk memaksa orang lain untuk berbuat kebaikan maupun meninggalkan kemungkaran, karena jika mentoknya ketika kita berdakwah/mengajak orang kepada kebaikan tetapi dia menolaknya, maka yang bisa kita lakukan adalah mendoakan dia agar Allah memberikan hidayah kepadanya, karena hidayah datangnya dari Allah, sedangkan kita sebagai manusia hanyalah menyampaikan risalah-Nya.
          Nah, Sahabat Muslim, marilah kita senantiasa berdakwah/mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan dan mencegahnya dari yang mungkar, mulai dari hal yang kecil dari diri kita sendiri sampai dengan hal yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang banyak. Karena jika kita melakukan dakwah, maka kita akan masuk kedalam golongan orang-oang yang beruntung.
“dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali Imron : 104)
SEMANGAT BERDAKWAH!!!

Sumber :
Aziz, Jum’ah amin Abdul. 2015. Fiqih Dakwah. Solo : PT Era Adicitra Intermedia

Penulis
SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sabtu, 04 Februari 2017

Milikilah Sifat Peduli Terhadap Orang Lain

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT,

          Dizaman yang semakin modern ini, manusia terkadang lupa dengan kepedulian terhadap orang lain dan juga lingkungannya. Sifat egois dan rasa acuh tak acuh mulai menggerogoti akhlaq umat islam saat ini. Masih banyak terkadang kita bisa melihat manusia tidak lagi peduli terhadap orang lain bahkan mungkin bisa sampai membuat orang lain merasa tersakiti bahkan celaka. Sebagai contohnya kasus yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sudah mengetahui, tidak bisa dipungkiri teknologi komunikasi saat ini semakin canggih, kita pasti tidak mau sampai tertinggal dan kudet dengan teknologi tersebut, sehingga kita selalu membawa dan bermain HP dimana dan kapan saja kita bisa. Saat pelajaran dikelas, kadang kita tidak peduli dengan guru yang menyampaikan pelajaran dan malah asyik bermain HP, selfie, upload foto di Instagram, nonton Film dan lain sebagainya, selain itu ketika sedang mengendarai motor ataupun kendaraan lainnya tidak focus berkendara tetapi malah focus denga HP, alhasil kecelakaan, atau bahkan juga bisa mencelakai orang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa kita memiliki sifat acuh tak acuh kepada orang lain. Teknologi yang semakin berkembang tidak bisa kita manfaatkan untuk hal-hal yang positif, tetapi cenderung malah kita manfaatkan untuk hal-hal yang sifatnya hanya hiburan semata.

          Sifat acuh tak acuh atau sifat masa bodoh merupakan sifat yang tercela dan dibenci oleh Allah SWT dan Rosululloh SAW, bahkan ada sebuah hadis yang menjelaskan jika kita memiliki sifat acuh kepada orang lain, maka kita dianggap termasuk orang-orang yang tidak beriman.

“tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (H.R Muttafaq ‘alaih)

          Dalam hadis diatas dengan tidak langsung kita telah diperintahkan untuk bisa memberikan kasih sayang dan cinta terhadap orang lain seperti kita mencintai diri kita sendiri. Jia kita sudah mencintai orang lain seperti mencintai diri kita sendiri, maka kita sudah termasuk kedalam golongan orang-orang yang beriman.

          Rasa cinta kepada orang lain karena lillah, maka kita akan termasuk kedalam orang-orang yang berbuat kebaikan kepada orang lain, karena seseungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Rosululloh SAW bersabda :

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”

          Dalam hadis lain pun dijelaskan juga bahwasanya kita dilarang untuk mengganggu, menghina, atau bahkan menyakiti orang lain, entah itu sahabat kita atau tetangga kita, yang jelas kita diperintahkan untuk selalu mencintai dan menebar kasih saying kepada semua orang. Dan jika kita ingin dicintai oleh Allah dan Rosululloh SAW, maka kita tidak boleh sampai menyakiti orang lain seperti sebuah hadis yang meriwayatkan :

“Barangsiapa ingin dicintai Allah dan RosulNya, hendaklah dia berbicara benar, menepati amanat dan tidak mengganggu tetangganya” (H.R Al-Baihaqi)

          Maksud tidak mengganggu tetangganya disini bukanlah mutlak hanya tetangga kita saja, akan tetapi kepada semua orang yang disekeliling kita, termasuk sahabat kita, orang tua kita, guru kita, dan juga lingkungan kita, selain kita harus memberikan kasih saying kepada manusia, kita juga diperintahkan untuk bisa menyayangi dan menjaga lingkingan sekitar kita dan dilarang untuk merusaknya. Seperti firman Allah yang artinya :

“dan janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepaanya dengan rasa takt (tidak akan diterima) dan penuh harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (Q.S Al-A’raf : 56)


Sumber :

Hidayat, Sholeh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Akhlak Terpuji. CV Megah Jaya.


Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta, mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dusta Sifat Orang Munafik

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT

Tanda-tanda orang yang memiliki sifat munafik dalam sebuah hadis dijelaskan ada tiga tanda-tandanya.

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; apabila berkata ia dusta; apabila berjanji, ia ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhiatnat” (H.R. Bukhari)

Na’udzubillah Sahabat Muslim, sifat munafik adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT dan Rosululloh SAW, kenapa demikian? Karena sifat munafik itu merupakan sifat yang sangat berbahaya, bukan hanya berbahaya bagi orang yang memiliki sifat munafik tersebut, akan tetapi juga berbahaya bagi orang lain, masyarakat, agama , bangsa dan negara.

Salah satu tanda orang munafik yaitu diantaranya memiliki sifat dusta.

Rosululloh SAW merupakan suri tauladan kita, dalam diri beliau tercermi akhlaq yang sangat mulia. Salah satunya adalah sifat Jujurnya. Rosululloh SAW dari kecil sudah terkenal akan kejujurannya, sampai ia mendapat gelar “Al-amin” yaitu orang yang dapat dipercaya. Tak ada satu pun orang Arab saat itu meragukan keujuran Nabi, hanya saja para kafir quraisy yang memang tidak suka dengan keberadaan Nabi, namun para sahabat dan orang lain yang sangat mencintai beliau sangat menjunjung tinggi dan menghormati Nabi Muhammad. Sahabat beliau Abu Bakar yang sangat percaya dengan semua apa yang disabdakan Nabi dan selalu membenarkan apa yang dikatakan oleh Nabi, sampai pada akhirnya Abu Bakar diberi gelar “As-Shidiq” yaitu orang yang membenarkan. Semua perkataan yang Nabi ucapkan walaupun itu tidak masuka akal Abu Bakar akan tetap percaya dan mengimaninya.

Sebagai seorang muslim yang mengaku cinta kepada nabi Muhammad SAW, sudah sepantasnya lah kita meneladani akhlaq beliau, walaupun terkadang memang sulit, tetapi tidak menutup kemungkinan jika kita mau berusaha untuk selalu berkata jujur.

Bahaya dari orang yang memiliki sifat dusta ini sangatlah banyak, selain akan dibenci Allah SWT, juga akan dijauhi oleh orang lain, serta akan mendapat ancaman neraka diakhirat nanti seperti sebuah hadis yang meriwayatkan :

“Takutlah kamu semua akan berkata dusta, sebab dusta itu sama dengan kecurangan dan keduanya ada didalam neraka” (H.R. Bukhari)

Sedangkan jika kita selalu berkata jujur, maka balasannya adalah surge. Seperti sebuah hadis yang meriwayatkan :

“Tetaplah berlaku jujur, karena jujur itu akan menuju pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menghantarkan kearah surge” (H.R Bukhari)

Kita tidak bisa membayangkan jika orang-orang di negara kita mempunyai sifat dusta, apalagi dia seorang pemimpin negara yang menjadi imam dalam pembangunan di negara kita. seorang pemimpin pun harus mempunyai sifat jujur dan menghindarkan diri dari sifat dusta. Karena dia mengemban amanah yang sangat besar. Bukan hanya itu saja, namun semua sifat munafik yang ketiga ini, dusta, ingkar janji, dan khianat haruslah dijauhi. Karena jiika pemimpin negara dusta, maka rakyat yang akan sengsara. Jika pemimpin negara ingkar dengan janjinya sendiri, itu juga akan merugikan rakyatnya, apalagi sampai berkhianat dari tugasnya sebagai pemimpin negara tentu saja negara ini akan hancur dan berantakan. Negara yang baldatu toyyibatun waroobun ghofur pun tidak akan pernah tercapai apabila pemimpin negara mempunyai sifat munafik.

Sumber :

Hidayat, soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Tercela. CV Megah Jaya.


Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta, mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jumat, 28 Oktober 2016

Meneladani Akhlaq Rosululloh

0 Comments
Sumber : Iqro'.net
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT,

          Akhlaqul karimah, merupakan hal yang paling dijunjung tinggi oleh Rosululloh SAW, tak heran, jika Rosululloh pun diutus oleh Allah SWT kedunia ini tak lain ialah untuk dapat  menyempurnakan akhlaq manusia.

“Sesungguhnya aku (Rosululloh) diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia”

Selain itu, pada diri Rosululloh SAW memang telah tercerminkan uswatun hasanah (tauladan yang baik) yang menjadikan beliau memiliki kedudukan yang tinggi dimata Allah SWT, dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S.Al-Ahzab : 21)

          Dengan akhlaqul karimah, hubungan antara manusia dengan Allah Dzat Yang Maha Esa akan terjalin dengan baik, karena kita hidup dalam beribadah kepada Allah SWT itupun harus menggunakan akhlaqul karimah, contohnya seperti Akhlaq ketika kita akan melaksanakan ibadah shalat. Misalnya, hukum shalat bagi kaum laki-laki itu sah apabila sudah menutupi auratnya, yaitu antara pusar sampai lutut, sehingga ketika melaksanakan shalat hanya menggunakan sarung tanpa memakai baju atasan itu pun sudah sah, akan tetapi, karena kita akan menghadap Allah SWT Dzat Yang Maha Suci, kita tidak diperkenankan hanya sebatas itu saja, walaupun hal itu sudah sah, namun kita juga harus menjaga akhlaq kita dihadapan Allah SWT. Lha wong ketika kita mau menghadap/ bertemu atasan kita saja memakai pakaian yang sopan, rapi, dan bagus, masak ketika kita mau bertemu dengan Allah SWT hanya memakai pakaian abal-abal saja, kan tidak etis, benar nggak sahabat Muslim?, Nah, untuk itulah, perlu sekali kita menjaga akhlaq dihadapan Allah SWT.

          Dengan akhlaqul karimah, selain hubungan antara kita dengan Allah Sang Maha Pencipta terjalin dengan baik, selanjutnya hubungan antara sesama manusiapun akan terjalin dengan baik pula, karena pada dasarnya manusia itu memiliki dua hubungan yang harus berimbang, yaitu Hablumminalloh (hubungan dengan Allah) dan hablumminannas (hubungan dengan sesama manusia).

          Nah, sebagai seorang Muslim yang berakhlaqul karimah, kita sudah seharusnya mencontoh teladan umat, yaitu Nabi kita  Muhammad SAW yang merupakan uswatun hasanah bagi umat manusia. Akahlaqul karimah, bukan hanya dituntut untuk dimiliki setiap Muslim saja, akan tetapi, akhalqul karimah harus dimiliki oleh setiap insan di dunia ini, baik itu Muslim mapupun Non-Muslim. Karena jika setiap insan itu memiliki akhlaqul karimah, maka hubungan antar sesama manusia akan terjalin dengan baik, dan bisa terciptanya toleransi antar sesame manusia. Misalnya akhlaq yang dicontohkan Rosululloh SAW, yaitu Rosululloh tidak pernah berkata bohong, beliau selalu jujur, setiap perkataan yang diucapkan beliau tidak ada yang sia-sia belaka, namun selalu memiliki makna kebenaran, karena sejatinya kejujuran itu akan mendatangkan kebaikan, dan kebaikan akan menghantarkan kita kedalam surga, seperti dalam sebuah hadis yang meriwayatkan :


Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’” (H.R Ahmad) [1]

Nah, sebagai insan yang memiliki akhlaqul karimah, kita sudah seharusnya mencontoh beliau, meskipun kepada non-muslim, akan tetapi mereka pasti juga akan lebih menyukai orang-orang yang berkata jujur.  Selain itu, Rosululloh juga merupakan seseorang yang dapat dipercaya, karna sifatnya itu, beliau diberi gelar Al-Amiin (orang yang dapat dipercaya) oleh penduduk Jazirah Arab saat itu. Sebagai insan yang memiliki akhalqul karimah kita juga sepantasnya mencontoh sifat tersebut, lebih-lebih jika orang itu diamanahi menjadi seorang pemimpim yang bertanggung jawab atas rakyat yang begitu banyak. Misalnya di negara kita, presiden adalah seseorang pemimpin yang diberikan kepercayaan oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai seorang penguasa, seorang pemimpin di NKRI, nah, sebagai seorang pemimpin yang telah diberi kepercayaan, haruslah bisa menjaga amanah tersebut, jangan sampai melanggar peraturan, apalagi sampai korupsi dan menyengsarakan banyak orang, karena kelak dihari kitamat akan dipertanyakan tanggungjawabnya selama menjabat sebagai pemimpin.

Begitupun juga kita sebagai individu yang telah diamanahi oleh Allah SWT berupa Nyawa, mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan masih banyak lagi yang Allah amanahkan kepada kita, maka kita juga harus bisa menjaga amanah itu, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang dzolim, orang-orang yang menganiaya diri sendiri maupun orang lain, misalnya, kita telah diamahai oleh Allah berupa mata untuk bisa melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT di dunia ini berupa ayat-ayat qouliyah maupun ayat-ayat qouliyah-Nya, tetapi kita gunakan mata kita untuk bermaksiat, melihat hal-hal yang dibenci Allah SWT. Maka, Na’udzubillah, jika seperti itu, kita sudah termasuk kedalam golongan orang-orang yang tidak memiliki akhlaqul karimah.

Nah, sahabat Muslim, sebagai seorang Muslim yang memiliki Nabi bergelar Al-Amiinyang dapat dipercaya”, seharusnya kita malu jika kita tidak memiliki akhlaqul karimah yang telah dicontohkan oleh beliau, memanglah kita tidak akan bisa setara dengan beliau yang merupakan manusia paling sempurna, tetapi minimal kita bisa mencontoh akhlaq beliau berupa sifat jujur dan dapat dipercayanya beliau, supaya kita bisa masuk kedalam golongan orang-orang yang mencintai Rosululloh SAW, Aamiin.


Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 
back to top