Senin, 14 Agustus 2017

Qona'ah

0 Comments

Bismillahirrahmanirrahiim

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT.

Dalam kehidupan ini, banyak orang  berlomba-lomba mengejar karir demi mendaptkan harta yang banyak, jabatan yang tinggi, kedudukan yang  mulia dimata manusia, namun melupakan bagaimana seharusnya beribadah untuk mengejar akhirat dan mendapat kedudukan yang mulia dimata Allah SWT. Dalam mengejar karir dilapangan kerja, tidak luput dari yang namanya kerja keras, usaha yang maksimal, dan tidak lupa doa yang terus dipanjatkan. Namun, ketika hasil yang didapat tidak seperti apa yang kita inginkan, apakah akan merasa ini tidak adil? Dalam kehidupan ini, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memiliki sifat Qona’ah karena hanya dengan Qona’ah lah hati kita akan merasa lapang dan akan menjadi golongan orang-orang yang beruntung, seperti haids yang berbunyi :

“Dari Abdillah bin Amr sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; “Sungguh beruntung orang yang masuk islam dan mendapat riski yang cukup dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya.” (HR Muslim)

Qana’ah menurut bahasa adalah merasa cukup atau rela, sedangkan menurut istilah ialah  sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang.

Sifat Qona’ah bukan berarti diam tanpa berusaha, namun juga disertai dengan usaha, ikhtar semaksimal mungkin, berdoa dan menyerahkan segalanya  kepada Allah, bagaimanapun hasil yang kita dapatkan harus disyukuri, harus kita terima, tidak boleh mengeluh apalagi sampai menyalahkan Allah SWT, Karena semua apa yang kita dapatkan semata-mata adalah pemberian dari Allah.

Memiliki sifat Qona’ah, sangatlah diperlukan, karena di dunia ini kita akan mendapatkan yang namanya ujian atau musibah dari Allah SWT, dengan Qona’ah, kita bisa menerima dengan ikhlas dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Entah itu baik maupun buruk bagi diri kita, karena memang Allah akan menguji keimanan kita dengan hal-hal yang demikian. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 155 :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqoroh : 155)

Contoh dari perilaku orang yang mempunyai sifat Qona’ah tentunya sangat banyak, beberapa contohnya sebagai berikut: rajin bekerja dan berusaha semaksimal mungkin , menerima dengan hati yang ikhlas dan lapang ketika hasil yang didapatkan tidak sesuai keinginan , tidak mudah putus asa, tidak serakah, tidak tamak dan lain sebagainya

Nah Sahabat Muslim, sudahkah kita merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan sekarang? Apakah kita sudah bisa menerima dengan ikhlas pemberian Allah SWT? Memiliki sifat Qona’ah memang membutuhkan latihan dalm kehidupan sehari-hari. Perlu penanaman sejak dini untuk bisa terbisa berperilaku Qona’ah , namun tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki kesungguhan, insya Allah, Allah akan membantu kita mencukupkan riski kita dan melapangkan hati kita untuk senantiasa ikhlas menerima apa yang Allah berikan kepada kita. karena Qona’ah merupakan simpnan yang sangat berharga.

“Al qona’atu kanyullayaghna” ; “Qona’ah adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap” (H.R Ath-Thabrani)

Referensi :
Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Terpuji. Jakarta : CV Megah Jaya


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 30 Juli 2017

Ketamakan Menggelapkan Hati

0 Comments

Sahabat muslim yang dirahmati Allah

Dalam kesempatan kali ini, penulis akan sedikit membahas tentang “Tamak”, apa pengertian dari tamak itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Tamak” memiliki arti selalu ingin memperoleh sesuatu yang banyak untuk diri sendiri. Tamak bisa disamakan dengan serakah atau rakus yang sama-sama bermakna negative dimana orang yang tamak selalu ingin mendapat lebih daripada orang lain.

Orang yang memiliki sifat tamak terhadap duniawi akan menyebabkan orang tersebut diperbudak oleh dunia, apa-apa yang dia lakukan dalam kehidupan sehari-hari akan terlihat seperti orang yang tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Misalnya, dalam urusan harta orang yang tamak ingin selalu  mendapatkan harta yang banyak daripada orang lain, meskipun itu keluarganya sendiri. Saat menikmati hidangan dan makanan, orang yang tamak ingin selalu memperoleh bagian yang lebih banyak daripada orang lain, sehingga dia akan merasa  puas dan kenyang, dan masih banyak contoh perilaku tamak yang lainnya.

Ketamakan itu sangat dibenci oleh Allah dan Rosulullah SAW, karena ketamakan dapat mengakibatkan hati seseorang menjadi tidak tenang karena selalu dikejar-kejar nafsu untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya meskipun harus menempuhnya dengan cara yang haram. Ketamakan juga bisa membuat hilangnya kebijaksanaan dan hatinya para ulama. Seperti sebuah hadis:

“Ketamakan akan menghilangkan kebijaksanaan dan hati para ulama
(H.R Ath_thabrani)

Seorang Guru, dosen, ustadz, kyai, jika mempunyai sifat dan perilaku Tamak pun masih bisa berbuat kesalahan, apalagi kita yang orang awam,  terkadang masih terjerumus kedalam nafsu duniawi yang menggelapkan hati.

Sahabat Muslim, sudahkah kita menghilangkan sifat dan perilaku tamak dari dalam diri kita?, ataukah kita masih sering merasa ingin memperoleh sesuatu yang lebih banyak daripada orang lain? Ingatlah sahabat, bahwasanya Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk memiliki harta yang banyak,  namun Allah lebih senang jika hambanya memiliki harta yang tidak bisa dinilai oleh uang, yaitu kekayaan jiwa. Seperti sebuah hadis:

“Kekayaan bukan banyaknya harta benda yang dimiliki, akan tetapi kekayaan jiwa (H.R Al-Bukhari)

          Sahabat Muslim, marilah kita senantiasa membenahi diri kita masing-masing, berusaha untuk menghindari sifat dan perilaku tamak yang dibenci Allah ini, dengan cara apa?, banyak cara yang bisa kita lakukan, salah satunya kita bisa belajar untuk menjadi orang yang pemurah. Orang yang senantiasa berusaha menjadi orang yang bermurah hati, maka sifat tamak itu perlahan-lahan akan lenyap. Selain itu kita juga akan mendapatkan kemurahan dari Allah SWT. Seperti dalam sebuah hadis:

“Kemurahan hati adalah dari (harta) kemurahan hati dan pemberian Allah. Bermurah hatilah, niscaya Allah akan bermurah hati kepadamu”
(H.R.Ath-Thabrani)

Selain itu orang yang pemurah, akan terhindar dari api neraka, seperti dalam sebuah hadis :

“Orang yang bermurah hati adalah dekat dengan Allah, dekat dengan sekalian manusia dan jauh dari api neraka” (H.R.Tirmidzi)


Referensi :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Akhlak Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya



Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Senin, 17 Juli 2017

Jauhilah Perbuatan Zalim

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

Dalam tulisan kali ini, penulis akan sedikit membahas tentang “Perbuatan Zalim”,apa itu perbuatan zalim?,

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “Zalim” memiliki arti bengis; tidak menaruh belas kasihan; tidak adil; kejam. Menurut buku yang ditulis oleh Soleh Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Kumpulan Hadis Tentang Akhlaq Tercela”, Zalim memiliki arti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya atau sesuatu perbuatan yang melampaui batas-batas kemanusiaan dan menentag kebenaran atau ketentuan.

Selain itu, Zalim disini juga merupakan sifat yang selalu ingin menguasai hak milik orang lain dan melampaui aturan-aturan Allah. Orang-orang yang zalim selalu berusaha berbuat aniaya terhadap orang lain dengan segala cara yang ia tempuh. Padahal Allah SWT sangat membenci orang-orang yang berbuat zalim, baik itu zalim kepada-Nya, kepada makhluk lain maupun zalim kepada dirinya sendiri. Seperti dalam sebuah hadis berikut ini :

Dari Abi Dzar Ra, dari Rasulullah SAW di dalam firman-Nya Allah SWT berfirman : “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan zalim atas diri-Ku dan mengharamkan pula perbuatan itu terhadap kamu sekalian. Oleh karena itu, janganlah kamu berbuat zalim antar sesamamu” (H.R. Muslim)

Dari hadis diatas kita bisa mengambil beberpa pelajaran bahwa kita tidak boleh zalim kepada Allah, kepada diri sendiri dan kepada sesame makhluk. Dalam buku yang sama, Soleh Hidayat juga menuturkan bahwasanya ada tiga macam kezaliman, yaitu :

Yang pertama, Kezaliman seorang hamba terhadap Tuhannya
Kezaliman ini dilakukan dengan cara mengingkari Allah. Bentuk kezaliman ini juga dilakukan dengan menyekutukan Allah didalam ibadah, misalnya seperti menyembah berhala, menyembah pohon beringin, menyembah batu dan lain sebagainya. Sedangkan dalam hadis seperti yang sudah disebutkan diatas, tentang larangan zalim terhadap Allah. “Wahai hamba-Ku, Sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan zalim atas diri-Ku”

Yang kedua, Kezaliman seorang hamba terhadap hamba lainnya (makhluk Allah)
kezaliman ini dilakukan dengan cara aniaya terhadap makhluk Allah, seseorang yang berbuat zalim terhdapa orang lain biasanya orang tersebut akan berusaha membuat orang lain celaka, menyakiti, dan bahkan merusah apa yang menjadi hak orang lain. Kezaliman ini tidak hanya berlaku untuk manusia saja, namun kezaliman ini bisa terjadi kepada binatang, tumbuhan dan apa yang ada dialam semesta ini, misalnya, menyiksa binatang, merusak alam tanpa memperdulikan akibatnya dan lain sebagainya.

Yang ketiga, Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri
Kezaliman terhdapa diri sendiri adalah kezaliman yang sangat bodoh, karena apa? Tentu saja kezaliman ini akan merugikan diri sendiri. Misalnya membiarkan dirinya kotor dengan berbuat dosa dan tidak mau bertaubat, melakukan maksiat kepada Allah SWT dan membiarka diri terjerumus kedalam kesesatan.

Sahabat Muslim, apakah kita sudah menghindari perbuatan zalim tersebut? apakah ibadah kita sudah seratus persen Lillahita’ala ataukah masih karena hal lain? Apakah kita sudah banyak berbuat kebaikan antar sesama, ataukah kita masih sering menzalimi orang lain? Dan apakah kita sudah bisa melepaskan diri kita dari dosa dan kemaksiatan? Marilah sahabat Muslim, kita renungkan bersama hal ini. semoga Allah senantiasa membantu kita untuk menghindari perbuatan zalim tersebut, karena sungguh ancaman dan azab Allah bagi orang-orang yang berbuat zalim itu sangatlah pedih, seperti firman Allah dalam surat Hud ayat 102 :

“Dan begitulah azab Robbmu apabila Dia mengazab (penduduk) negri yng berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (Q.S.Hud : 102)

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah.

Untuk menghindari perbuatan zalim tersebut tentu saja hal yang harus kita perbuat antara lain sebagai berikut :

Yang pertama, Beribadah selalu dengan hati yang ikhlas Lillahita’ala, tidak karena hal lain, misal beribadah hanya ingin mendapat pujian, hanya ingin dipandang sebagai orang yang soleh, dan lain sebagainya, namun niatkanlah pada hati kita, kita beribadah bukan karena apa pun, melainkan hanya karena Allah SWT.

Yang kedua, perbanyaklah amal soleh, perbanyaklah bersilaturahmi, mempererat tali persaudaraan akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT. Seperti sebuah hadis :

“Kebaikan yang paling cepat mendapat ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan kejahatan yang paling cepat mendapatkan hukuman ialah kezaliman dan memutuskan hubungan kekeluargaan”. (H.R. Ibnu Majjah)

Yang ketiga, selalu berusaha memperbaiki diri, menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Insya Allah, dengan ini semua kita akan terhindar dari perbuatan zalim dan menghantarkan kita menjadi orang-orang yang soleh yang bertaqwa kepada Allah SWT. Aamiin Ya Robbal’alamiin


Referensi

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya


Penulis

SUKARMAN

Anak Asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

          

Senin, 08 Mei 2017

Kendalikan Dirimu Ketika Marah

0 Comments
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

Dalam hidup kita, pastilah kita pernah mengalami suatu masalah yang membuat  diri kita merasa terhina, tertekan, terancam, tersinggung, tersakiti dan lain sebagainya, yang hal tersebut dapat menimbulkan kemarahan pada diri kita.

Marah itu sebenarnya seperti bara api yang berkobar dalam hati manusia. Sangat sulit rasanya menahan amarah ketika iman kita dalam keadaan lemah. Ucapan-ucapan yang dikeluarkan orang ketika marah pun tidak pantas untuk didengar dan bahkan bisa menyakiti hati orang lain.

Sehebat-hebatnya manusia, sekuat-kuatnya manusia, tetapi jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika marah, maka hal itu percuma saja. Karena Rosulullah SAW pernah bersabda :

“Bukanlah pegulat orang yang kuat, melainkan orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (H.R. MUttafaqun ‘alaih)

          Orang yang kuat imannya , dia akan selalu berpegag teguh pada perintah Allah dan  ajaran  Nabi Muhammad SAW, dia akan senantiasa meneladani akhlaq Rosulullah, sehingga orang yang kuat imannya senantiasa berusaha untuk mengendalikan diri ketika sedang dalam keadaan marah.

Nah Sahabat Muslim, apakah kita sudah bisa mengendalikan diri kita ketika marah? atau kita masih merasa sulit untuk bisa mengendalikannya?

Telah bersabda Rosulullah SAW :

“Barangsiapa jauhkan kemrahannya, niscaya Allah akan jauhkan dari adzab-Nya” (H.R.Athabrani)

Nah sahabat Muslim, dalam hadis diatas sudah dijelaskan bahwasanya jika kita bisa menjauhkan diri dari kemarahan dan bisa mengendalikannya, maka InsyaAlloh kita akan dijauhkan dari Adzab Allah SWT.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengedalikan diri ketika marah?

Dalam buku yang berjudul “Kumpulan Hadis Tentang Akhlak Tercela” karya dari Soleh Hidayat, menyebutkan ada beberapa cara agar kita terhindar dari sifat marah, antara lain :

Ø Meyadari dengan sepenuh hati bahwasanya marah itu adalah perbuatan setan.
Ø Menyadari bahwasanya marah iu merupakan perbuatan dosa, maka kita harus selalu ingat bahwa setiap dosa itu akan dibalas oleh Allah dengan siksa.
Ø Memahami bahwa akibat dari perbuatan marah itu menjurus pada perbuatan-perbuatan yang merugikan, baik merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Ø Menyadari bahwa kita ini m  akhluk yang lemah, tempatnya lupa dan salah.
Ø Mengamalkan sifat terpuji, seperti pemaaf, sabar, jujur, dan tawakal.
Ø Berwudhu dan beristighfar karena marah itu datangnya dari setan, dan setan akan musnah dengan wudhu dan istighfar

Selain itu dalam sebuah hadis Rosulullah SAW memerintahkank kita untuk menahan amarah kita.

“Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya seorang laki-laki berkata : ‘Ya Rosulallah! Nasihatilah saya. Sabdanya ‘Janganlah engkau marah!’ lalu beliau mengulanya beberapa kali. ‘janganlah engkau marah!” (H.R.Bukhari)


Sumber :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Tercela. CV Megah Jaya.


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Senin, 17 April 2017

Tiga Inti Kebahagiaan

1 Comment

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

          Dalam kehidupan, kita pasti akan mengalami yang namanya suka-duka, senang-sedih, tertawa-menangis, mendapat kemudahan maupun kesulitan, semua itu merupakan bumbu yang diberikan Allah SWT kepada kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tak ada satupun manusia yang selamanya hidup dalam kesenangan, namun ada saatnya diberi ujian yang menyedihkan, sesuatu itu pasti akan berubah, karena dunia terus berputar sampai pada batas waktu Allah menghentikan semuanya.

          Semua umat manusia pasti menginginkan yang namanya kebahagiaan, benar tidak Sahabat Muslim? Tentu saja setiap orang tidak mau mengalami kesulitan, kita sendiri pasti merasakannya bukan?, begitu juga dengan penulis artikel ini mengalami berbagai kesulitan. Tapi sahabat muslim, walaupun kita sedang dilanda kesuliatan, ada caranya lho agar kita bisa merasakan suatu kebahagiaan, mau tau caranya bagaimana? Simak penjelasan dibawah yaa..

          Menurut Imam Ibnul Qoyyim, ada tiga inti kebahagiaan, jika kita bisa menerapkannya dalam kehidupan, Insya Allah hidup kita senantiasa akan mendapat kebahagiaan :

1.     Apabila mendapat nikmat Bersyukur

Tak ada keberhasilan tanpa usaha, usaha tanpa doa adalah kesombongan. Dua kata “usaha” dan “doa”  merupakan dua hal yang harus saling melengkapi, karena keberhasilah yang didapat setiap orang tidak luput dari pertolongan Allah SWT. Jika kita ingin hidup bahagia, maka keberhasilan/kenikmatan yang kita dapatkan haruslah disyukuri. Sesuai firman Allah yang telah  memerintahkan kita untuk bersyukur :

“Maka dari itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya akau Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Q.S. Al-Baqoroh:152)

Jika kita senantiasa bersyukur, merasa cukuo dengan apa yang Allah berikan kepada kita, insya Alloh hidup kita senantiasa akan merasa bahagia.

2.     Apabila diuji bersabar

Tak ada manusia yang luput dari ujian Alloh SWT. Ujian itu ada dua hal, yaitu kenikmatan dan kesulitan.  Jika kita diberi ujian berupa kenikmatan, kita harus bersyukur dan tidak boleh mengingkari kenikmatan yang telah Allah berikan. Sedangkan jika kita diberi ujian berupa kesulitan, kesengsaraan dan musibah kita diperintahkan untuk bersabar. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan teteaplah bersiap siaga (diperbatasan negri kalian) dan bertakwalah kepada Allah suapaya kalian beruntung” (Q.S. Ali Imron : 200)

Selain memag sudah perintah dari Alloh SWT agar kita bisa bersabar, namun dengan kesabaran tersebut kita akan mendapatkan pahala dari Alloh SWT.

“Sesunggunhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Q.S.Az Zumar : 10)

3.     Apabila berbuat dosa Bertaubat

Tak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan, karena manusia diciptakan dengan nafsu baik maupun buruk, namun sebaik-baiknya manusia yang berbuat dosa ialah yang mau mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada Allah serta berjanji tidak akan melakukan dosa tersebut. Karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (Q.S.Al-Baqoroh : 222)

Sahabat Muslim, jika kita selalu mengeluh karena merasa kesulitan dan menginginkan kebahagiaan. Apakah kita sudah menerapkan tiga unsur penting diatas tadi? Apakah kita sudah bersyukur, bersabar dan bertaubat? Mulailah dari sekarang sahabat kita sama-sama belajar untuk bisa menerapkan 3 unsur penting diatas tadi agar hidup kita senantiasa mendapatkan kebahagiaan dari Allah SWT. Walaupun bukan dengan hal-hal yang mewah dan wah, namun dengan kesederhanaan dan kecukupan sudah bisa membuat kita bahagia. Karena kebahagiaan itu sederhana tak perlu mewah.

Sumber :
Aziz, Jum’ah Amin Abdul. 2015. Fiqih Dakwah. Solo : PT Era Adicitra Itermedia.

Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Minggu, 16 April 2017

Bahaya Sifat Riya

0 Comments
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah

Dalam artikel edisi kali ini, penulis akan sedikit membahas tentang sifat “RIYA”

Riya dalam islam adalah mengerjakan suatu amal perbuatan tidak dengan didasari karena Allah melainkan agar dilihat dan dipuji oleh orang lain. Dalam bahasa sehari-hari kita, kata riya biasa disebut dengan istilah pamer. Seseorang yang didalam hatinya mempunyai penyakit riya biasanya orang tersebut sering memperlihatkan apa-apa yang ia miliki.  Namun terkadang kita tidak bisa menilai seseorang riya karena yang bisa mengetahui riya tersebut hanyalah dirinya sendiri karena riya merupakan penyakit hati.

Namun, rosulullah SAW pernah bersabda, bahwasanya orang riya itu mempunyai tiga ciri:

“Orang yang riya berciri tiga, yakni apabila dihadapan orang dia giat, tetapi bila sendiri dia malas, dan selalu ingin mendapatkan pujian dalam segala urusan” (H.R. Ibnu Babawih)

Ada beberapa jenis riya lho sahabat muslim. Dalam sebuah artikel dijelaskan ada 2 jenis macam riya, yakni :

1.     Riya dunia

Orang yang mempunyai sifat riya dunia, biasanya berkaitan dengan harta, kedudukan, jabatan dalam pekerjaan, dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki sifat riya biasanya akan giat dalam melakukan pekerjaannya di dunia hanya karena mengejar pangkat, harta, dan kedudukan saja, namun tidak disertai karna Allah dan menyadari bahwasanya pekerjaan itu juga datangnya dari Allah SWT. Ketika seseorang yang berambisi ingin mengejar dunia, maka jika ambisinya itu tercapai, ia akan riya dan memamerkannya kepada orang lain serta ingin mendapatan pujian dari orang lain karena keberhasilannya, namun jika ambisinya tidak terpenuhi, ,maka ia akan merasa kecewa dan seperti yang dijelaskan dalam hadis diatas, ia akan bermalas-malasan.

2.     Riya ibadah

Orang yang mempunyai sifat riya, dalam beribadah pun tidak didasari lillahita’ala, namun karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain, misalnya orang tersebut rajin sholat ketika ada teman-temannya, bersedekah dengan memperlihatkannya agar dipuji oleh orang lain, naik haji hanya karena ingin dipanggil dengan sebutan Haji dan Hajjah.

Semua perbuatan yang tidak didasari karena Allah SWT tidak akan mendapatkan pahala melainkan akan mendapat balasan dari perbuatan buruknya. Nah sahabat Muslim, apakah kita sudah terhindar dari penyakit hati “riya” ini.? ataukah masih ada dalam hati kita sifat dimana kita ingin mendapat pujian dari orang lain?

Bahaya dari sifat “riya” ini adalah seperti ketika kita lalai dalam mengerjakan sholat lhoo. Seperti dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat (yaitu orang yang mengerjakan sholatnya dengan lalai dan riya dengan amal mereka….” (Q.S Al-Ma’un : 3-5)

Selain itu riya itu juga merupakan syirik kecil, seperti sebuah hadis yang meriwayatkan :

“Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil” (H.R.Ahmad dan Al Hakim)

Karena bahayanya sifat dari riya ini, bahkan ketika ada seseorang yang memuji walaupn kita tidak berniat untuk riya meminta pujiannya, kita diperintahkan untuk menaburkan pasir kewajah mereka ,seperti sabda Rosululloh SAW.
“Bila kamu melihat orang-orang yang memuji dan menyanjung-nyanjung, maka taburkanlah pasir kewajah-wajah mereka” (H.R.Ahmad)

Lalu sahabat Muslim bagaimana kita bisa terhindar dari penyakit hati tersebut?

Agar kita terhindar dari sifat riya, mulailah dari sekarang kita sandarkan segala amal perbuatan kita hanya karena Allah SWT. Kita hayati dan kita pahami syair dalam doa iftitah “Inna sholatii wanusukii wamahyaya wamamatii lillahi robbil’alamiin”, yang artinya “sesunguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah tuhan semesta alam”.

Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang terhindar dari penyakit hati “riya” tersebut. Ammin.


Sumber :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis tentang Akhlak Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 19 Maret 2017

Jauhilah Sifat Kikir

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah

Sifat kikir dalam kehidupan sehari-hari biasa kita menyebutnya dengan istilah pelit/bakhil. Orang yang memiliki sifat kikir biasanya dikarenakan memiliki kecintaan yang berlebihan terhadap harta keduniaannya.

Allah SWT dan Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk senantiasa menjauhi sifat kikir, karena sifat tersebut dapat membinasakan hidup kita sendiri, sebagaimana sifat tersebut telah membinasakan umat-umat terdahulu.

“Ittaqus Syuhha, Fainnahu ahlaka man kaana qoblakum”

“Jauhilah kekikiran. Sesungguhnya kekikiran itu telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu. (H.R. Muslim)

          Selain itu orang yang memiliki sift kikir/bakhil tidak akan bisa masuk kedalam surga. Seperti sebuah hadis yang meriwayatkan :

“La yadkhulul jannata bakhillun”

“Tidak akan masuk surga  orang yang bakhil” (H.R Muslim)

Nah, Sahabat Muslim, sudahkah kita membersihkan hati  dari sifat kikir,? Ataukah dalam hati kita masih ada satu titik hitam sifat kekikiran?

Taka ada manusia yang sempurna di dunia ini, sesempurna manusia adalah baginda Nabi Muhammad SAW yang memiliki uswatun hasanah “Suri Tauladan yang baik”, bahkan jika kita ingin melihat Akhlaq dari Nabi Muhammad SAW, maka lihatlah Al-Qur’an, sesungguhnya Akhlaq Nabi ada di Al-Qur’an yang memiliki berjuta kebaikan didalamnya. Namun, tidak ada salahnya jika kita berusaha untuk meneladani akhlaq beliau, malah kita sangat dianjurkan dan diperintahkan untuk bisa mencontoh sifat-sifat beliau.

“Sesungguhnya, adalah bagimu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, Yaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan keridhoan Allah dan balasan baik di hari akhirat, serta ia pula menyebut dan banyak mengingati Allah” (Q.S AL-AHZAB : 21)

Banyak diantara kita berprasangka, oraang yang pelit itu biasanya karena tidak mau memberikan sebagian harta miliknya kepada orang lain atau hanya sekedar membantu meringankan beban orang lain, namu Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwasanya sepelit-pelitnya orang adalah ketika di sebutnya Nama Nabi Muhammad tidak mau membalasnya dengan bacaan sholawat. Seperti sebuah hadis dibawah ini :

"Orang yang pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya, maka dia tidak bershalawat kepadaku." (HR. At-Tirmidzi)

Menjaukan diri dari sifat tercela memanglah tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun semua itu bisa kita iktiarkan dengan terus berusaha menjauhinya, adapun beberapa cara yang dapat kita lakukan agar kita bisa menjauhkan diri kita dari sifat kikir menurut Soleh Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Kumpulan Hadis Tentang Akhlaq Tercela” antara lain :

1.     Menyadari bahwa harta itu tidak akan dibawa mati
2.     Menyadari bahwa sifat kikir itu akan mengakibatkan dijauhi dan dikucilkan masyarakat
3.     Mempelajari ayat-ayat Al-qur’an yang berhubungan dengan tercelanya sifat kikir
4.     Menyantuni anak yatim piatu, fakir, miskin, dan orang-orang yang mengalami kesusahan.

Nah, sahabat Muslim, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dan  berusaha menjauhkan diri dari sifat kikir, karena ketika iman kita kuat maka sifat kikir tersebut akan lenyap, karena sifat kikir dan keimanan tidak akan pernah bersatu.

“Tidak akan berkumpul dalam hati seseorang hamba kekikiran dan keimanan” (H.R. Aththalayisi)

          Dan sebaliknya juga ketika kekikiran yang ada dalam hati kita, maka iman juga akan hilang dalam hati, maka dari itu marilah kita bersama-sama selalu mempertebal iman dalam diri kita. dan semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orng yang beruntung, Aamiin

Sumber :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis tentang Akhlak Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya.


Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
 
back to top