Senin, 15 Januari 2018

Belajar Dari Nabi Musa

0 Comments

Sahabat muslim yang dirahmati Allah SWT, Manusia tidak luput dari namanya ujian yang diberikan oleh Allah, baik itu ujian berupa kenikmatan maupun ujian berupa musibah, karena pada hakikatnya ujian kita bukan hanya hal-hal yang berupa musibah saja, namun juga berupa kenikamatan. Hal ini merupakan tolak ukur ketaqwaan manusia kepada Allah SWT, apakah ketika mendapat ujian berupa musibah manusia bisa bersabar dalam menghadapinya atau malah berkeluh kesah dan putuh asa, serta apakah ketika mendapat ujian berupa kenikmatan manusia semakin bersyukur atau malah kufur nikmat.

Dalam kitab suci Al-Qur’an juga sudah dijelaskan bahwasanya Allah akan menguji manusia dengan berbagai macam ujian.

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S Al-Baqoroh : 155)

Ketika kita mendapatkan musibah yang berbelit-belit dalam hidup kita, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk bagaimana cara kita menyelesaikan masalah, namun Allah memerintahkan kita untuk bersabar dan  kembali kepada Allah SWT dengan shalat, karena hanya kepada Allah lah kita akan mendapatkan jawaban dari apa yang sedang menyelimuti kita.

Jadikanlah Sabar dan shalat sebagai penolongmu….” (Q.S. Al-Baqoroh : 45)

Sering kali kita merasa pintar dihadapan Allah, seringkali kita mengukur kekuatan kita melalui akal pikiran kita bukan dengan ketaqwaan kita. Ketika  sedang tepatuk dengan keadaan yang sulit, terkadang kita berpikir bagaimana caranya bisa keluar dan menyelesaikan semua masalah ini, namun kita lupa kepada siapa yang dapat memberikan jalan keluar disetiap masalah, kita lupa kepada Allah, kita lupa memohon pertolongan dari Allah SWT.

Kita bisa belajar dari nabi Musa ‘Alaihisalam, dalam Al-Qur’an juga sudah diceritakan di surat Al-Baqoroh ayat 50 yang artinya :

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya, sedang kamu sendiri menyaksikan” (Q.S Al-Baqoroh : 50)

Ketika Nabi Musa bersama kaum bani israil dikejar-kejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya yang keji, sedangkan mereka terhalang oleh laut merah, para pengikut Nabi Musa  sudah mulai putus asa, karena mereka mengira akan tertangkap oleh fir’aun. Namun Nabi Musa terus memohon pertolongan kepada Allah dan berserah kepada-Nya. Akhirnya Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mengankat tongkatnya sehingga laut merah menjadi terbelah.

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.” (Q.S Asy-Syu’ara : 63)

 Ketika laut merah telah terbelah, Nabi Musa dan para pengikutnya pun dapat melewatinya. Seketika Nabi Musa dan pengikutnya telah sampai diujung laut merah, pasukan fir’aun masih berada ditengah-tengah laut merah, kemudian dengan izin Allah laut merah yang tadinya terbelah seketika menyatu kembali dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya.

Dari kisah nabi Musa kita bisa belajar bahwasanya manusia tidak berdaya ketika ditimpa ujian berupa musibah dan kebigungan, tanpa pertolongan Allah SWT. Ketika kita merasa sudah putus asa, sudah tidak bisa menemukan jalan keluar dari masalah kita maka kembali lah kepada Allah, serahkanlah segala urusan kita kepada Allah. Hanya karena kepada Allah lah kita memohon pertolongan :

“Iyya kana’budu waiyyaka nasta’iin.”

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau lah kami memoho pertolongan”. (Q.S. Al-Fatihah : 4)

Referensi :



Penulis
SUKARMAN
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Minggu, 10 Desember 2017

Islam Membukakan Mata Hati

0 Comments


Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT,

Nabi Muhammad SAW diciptakan oleh Allah tak lain adalah sebagai penyempurna akhlaq manusia karena ada dalam diri Rosulullah akhlaq yang mulia, sperti firman Allah :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S.Al-Ahzab ayat 21)

Bertahun-tahun lamanya manusia berada pada kesesatan di zaman jahiliyah, dimana mata mereka masih belum bisa melihat, mata mereka masih buta akan kebenaran yang hakiki. Banyak adat dan perilaku umat zaman jahiliyah yang sangat mengerikan. Mereka menyembah berhala yang dibuatnya sendiri, Mereka membunuh bayi perempuan yang tak berdosa, mereka meminum arak dan berzina disembarang tempat. Sungguh akhlaq yang menjijikkan.

Setelah Nabi Muhammad SAW dilahirkan di bumi ini, dunia yang gelap menjadi terang benderang karena nur/cahaya yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Adat dan perilaku masyarakat yang menyimpang perlahan-lahan dituntun oleh Nabi menuju jalan yang benar dan lurus, hingga akhirnya sebagian masyarakat jahiliyah saat itu mulai bisa membuka matanya dan melihat kebenaran yang sempurna, yakni kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yaitu agama Islam.

Islam yang berarti keselamatan yang membawa ajaran tentang kedamaian terkadang dipandang sebagai agama yang mengajarkan kekerasan, agama yang membatasi perilaku manusia, bahkan agama teroris. Inilah pandangan orang awam yang matanya masih buta tentang agama yang Nabi Muhammad SAW bawa ini. sedangkan Nabi Muhammad datang tidak lain membawa kasih saying bukan hanya kepada manusia saja namun juga kepda seluruh alam. Seperti firman Allah :

“Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.” (Q.S Al-Anbiya : 107)

Islam adalah agama yang mengajarkan tentang arti kedamaian. Islam juga mengajaran umatnya untuk bisa saling memberikan kasih sayang dan bertoleransi antar umat beragama, seperti firman Allah dalam surat Al-Kafirun ayat erkahir yang artinya :

“Lakum dinukum waliyadiin”
“Bagi mu agama mu dan bagiku agamaku” (Q.S Al-kafirun : 6)

Islam selalu mengajarkan umatnya untuk menghargai orang lain, baik itu menghargai perbedaan pendapat, perbedaan bangsa,  perbedaan agama dan perbedaan yang lainnya. Islam juga melarang umatnya untuk saling membenci dan mencela antar sesama, isalm memerintahkan pemeluknya untuk saling menyayangi satu sama lain, seperti sebuah hadis :

“Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (H.R Muttafaqun ‘alaih)

Dalam ayat maupun hadis diatas sudah jelas bahwasanya islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwasanya “Innaddina ‘indallohil islam” yang artinya “sesunggunya agama yang benar di mata Allah adalah Agama Islam”, bagi umat islam muslim memanglah agama yang paling benar adalah agama islam, walaupun demikian, islam mengajarkan untuk bisa menghargai agama lain, seperti dalam surat Al-Kafirun ayat 6 diatas yang artinya “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”, sehingga islam tetap menghargai agama lain,

          Islam mengajarkan umatnya juga untuk bisa mengasihi orang yang beragama lain, seperti dalam Al-Qur’an dijelaskan :

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Dengan ayat diatas dijelaskan bahwasanya Allah tidak melarang untuk berbuat baik kepada orang yag berbeda agama dari kita, selagi mereka tidak memerangi kita, kita tetep diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka.

Itulah agama islam, itulah agama yang mengajarkan kedamaian, masihkah mata kita merasa buta, masihkah kita belum bisa melihat agama islam yang penuh dengan kasih sayang?

Orang non-Muslim hendaknya perlu tau agama islam itu adalah agama yang penuh dengan kedamaian, agama yang melarang umatnya untuk saling membenci walaupun berbeda agama. Juga kita sebagai orang Muslim hedaknya juga tahu, kita dilarang untuk membenci dan memusuhi orang non-muslim, bahkan kita malah diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, sehingga ketentraman dan kedamaian antar umat beragama akan terwujud dengan baik,. Aamiin ya Robbal ‘alamiin.


Referensi
Soleh, Hidayat. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya
Al-Qur’anul Karim



Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jangan Sombong

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT

Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit menyampaikan tentang salah satu dosa yang pertama kali terjadi dalam sejarah kehidupan ini.  Dosa itu ialah sombong..

Sombong ialah tidak mau menerima kebenaran, keras hatinya dan selalu meremehkan orang lain. Orang yang mempunyai sifat sombong akan selalu merasa dirinya lebih baik, lebih unggul dari pada orang lain, menganggap orang lain itu lebih buruk dan lebih hina dari pada dirinya.

Dosa sombong ini pertama kali dilakukan oleh iblis. Ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat dan iblis untuk bersujud kepada nabi Adam As, seperti firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 34 yang artinya :

”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (Q.S Al-Baqoroh : 34)

Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan malaikat dan iblis untuk bersujud kepada nabi Adam As, dalam arti untuk menghormatinya, bukan untuk menyembah Nabi Adam, karena mustahil Allah SWT memerintahkanmakhluk-Nya untuk menyembah selain kepada-Nya.

Ketika Allah memerintahkan para malaikat dan juga iblis  untuk bersujud kepada Adam, maka semua bersujud kecuali Iblis. Ia enggan bersujud kepada Adam As karena iblis mempunyai sifat sombong, ia beranggapan bahwa dirinya itu lebih baik dari pada Adam, ia diciptakan dari api sedangkan Adam hanya diciptakan dari tanah.

Setelah Iblis berkata seperti itu, maka Allah SWT sangat murka kepada Iblis dan melaknatnya menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya. Tetapi iblis tidak peduli dengan laknat Allah tersebut, malah ia berjanji akan menyesatkan anak keturnan Adam As dari jalan kebenaran menuju jalan kesesatan, untuk menjadikan mereka sebagai temannya dalam neraka, dan iblis juga meminta satu permintaan kepada Allah untuk menghidupkannya sampai hari kiamat tiba.

Jadi, iblis itu bisa berkembang biak, bisa beranak pinak, tetapi iblis tidak akan pernah mati sebelum hari kiamat tiba, sehingga selama iblis itu masih hidup maka ia akan selalu berusaha untuk menyesatkan umat manusia dari jalan yang lurus. Oleh karena itu, kita sebagai umat manusia juga bisa terbesit dalam hati kita sifat sombong, sifat dimana diri kita merasa lebih baik dari pada orang lain. untuk itu saya disini mengajak diri saya pribadi dan juga kaum muslimin semuanya,,  untuk berusaha selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, dan selalu Ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT, karena iblis pun pernah mengadu kepada Allah, bahwasanya ia tidak berdaya menyesatkan orang-orang yang ikhlas beribadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama berusaha untuk menjauhkan diri kita dari sifat sombong tersebut, karena naudzubillah, orang yang mempunyai sifat sombong ini akan mendapatkan adzab yang pedih dan akan mesuk kedalam api neraka.

Seperti dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Dari Haritsah bin Wahab RA, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, "Maukah kalian aku beritahukan tentang penghuni surga?" Para sahabat menjawab, "Tentu kami mau ya Rasulullah." Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Yaitu setiap orang yang lemah dan yang selalu diremehkan orang lain. Apabila ia bersumpah dengan nama Allah, maka akan dikabulkan sumpahnya itu." Rasulullah SAW bertanya lagi, "Maukah kalian aku beritahukan tentang penghuni neraka?" Para sahabat menjawab, "Tentu kami mau ya Rasulullah." Rasulullah SAW bersabda, "Yaitu setiap orang yang besar mulut dan rakus, bengis, serta sombong." (HR. Muslim).

Dalam hadis ini, sudah jelas bahwasanya sombong merupakan salah satu faktor dimana seseorang bisa menjadi penghuni neraka. Untuk itu sekali lagi, saya sebagai umat islam berpesan kepada diri saya pribadi dan juga kepada kaum muslimin semuanya untuk selalu menjauhi sifat yang hina ini, demi kemaslahatan umat dan demi membuat diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat, dan pada akhirnya kita menjadi orang-orang yang selamat dari murka Allah SWT dan terhindar dari pedihnya siksa api neraka.

Selain itu orang yang masih memiliki sifat sombong dalam hatinya, walaupun hanya sedikit saja, maka ia tidak akan masuk surga, seperti sebuah hadis :

“Tidak akan masuk surge orang yang di dalam hatinya masih terdapat sifat takabur (sombong) meskipun hanya seberat atom yang sangat halus.” (H.R Muslim)

Semoga Allah senantiasan memerikakn kekuatan iman kepada kita semua. Aamiin ya Robbal ‘alamiin

Referensi :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Akhlak Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya.

Tafsirq.com


Penulis

SUKARMAN

Anak asuk Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kamis, 12 Oktober 2017

Menggapai Harapan

0 Comments

Bismillahirrahmanirrahiim
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah

Jika berbicara tentang keinginan, setiap orang pasti mempunyai keinginan yang masing-masing berusaha untuk mewujudkannya. Bisa dikatakan Mustahil jika manusia tidak mempunyai keinginan, karena pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan nafsu yang membuat manusia mempunyai  banyak keinginan.

Dalam kehidupan sehari-hari keinginan yang diharapkan oleh orang-orang berubah-ubah, keinginan untuk makan enak, keinginan untuk membeli pakaian yang bagus, rumah yang bagus, motor, mobil dan lain sebagainya. Tidak henti-hentinya manusia menginginkan banyak hal yang ingin terus mereka wujudkan. Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah setiap keinginan yang kita harapkan akan dikabulkan oleh Allah SWT?

Kesenjangan antara keinginan dan realita yang kita dapatkan terkadang diluar espektasi kita. namun Allah lebih tau kapan waktu yang tepat untuk kita bisa mendapatkan keinginan kita, karena Allah lebih tau apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya bukan hanya sekedar apa yang diinginkan oleh hamba-Nya. Terkadang kita tidak sadar sudah banyak kebutuhan hidup kita yang diberi oleh Allah SWT selama ini. ada orang sakit dan dia menginginkan kesembuhan dan kesehatan, namun kita yang sehat terkadang lupa akan nikmat ini. banyak orang yang kelaparan dijalanan karena tidak bisa makan, sedangkan kita yang mempunyai makanan terkadang masih ingin makan makanan yang lebih enak dari ini, terkadang kita lupa akan nikmat itu semua hanya karena keinginan kita tidak terwujud.

Nah, sahabat Muslim dalam kehidupan ini segala sesuatu yang ingin kita wujudkan tidak lepas dari beberapa hal , antara lain : Dzikir, Fikir, Ikhtiar, sabar dan tawakal.

Dzikir

Dzikir artinya mengingat. Kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk banyak berdzikir mengingat Allah Sang Maha Pencipta. Seperti firman Allah dalam Al-qur’an.

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab : 41)

Degan banyak berdzikir maka hati dan pikiran kita akan tenang. Keinginan-keinginan yang sifatnya hanya duniawi semata tidak akan terus mengganggu pikiran kita, karena kita serahkan semua itu kepada Allah ‘azza wajalla.

Fikir

Ketika kita mengharapkan sesuatu. Kita pasti akan memikirkan bagaimana cara supaya kita bisa mewujudkannya. Semua itu butuh yang namanya pemikiran terlebih dahulu, jangan sampai apa yang kita lakukan malah akan membuat kita menyesal dikemudian hari karena tanpa pemikiran terlebih dahulu. Dalam kehidupan ini semua apa yang berada di bumi perlu kita pikirkan, karena Allah SWT pun telah memerintahkan kita untuk selalu menggunakan akal kita jangan sampai kita hanya mempergunakan nafsu saja.

“Apakah ada salah seorang diantaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angina keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu memikirkannya.” (Q.S. Al-An’am : 50)

Ikhtiar

Ikhtiar dalam bahasa Arab berasal dari kata khair yang artinya baik. Ikhtiar adalah berusaha sungguh-sungguh dengan menempuh jalan yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu yang berlaku dalam bidang yang diusahakan, dengan disertai doa kepada Allah agar usahanya itu berhasil, karena jika kita hanya berdoa dan berpikir tanpa usaha dari diri kita sendiri maka tidak akan pernah ada action dan hasil yang kita dapatkan. Allah SWT pun memerintahkan kita untuk selalu berikhtiar, karena tanpa usaha dari diri kita sendiri maka semua tetap akan sama saja tidak ada hasil yang akan kita dapatkan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S. Ar-Ra’du : 11)

Sabar dan tawakal

Semua apa yang telah kita lakukan setelahya kita harus tawakal kepada Allah SWT, kita serahkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT. Entah hasil yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita harapkan atau tidak semua itu harus kita terima dengan sabar dan ikhlas, karena Allah lebih tau kapan kita siap untuk mendapatkan semua apa yang kita inginkan.

“kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imron : 159)

Referensi :

[1] Teungku Hasbi Ash-Shiddieqiy, Pedoman Dzikir Dan Doa, (Jakarta: Bulan Bintang,  Cet ke-llX, 1990


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Kamis, 21 September 2017

Tabayyun

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT.

zaman sekarang ini setiap orang tidak luput dari teknologi dan media sosial. Dimana teknologi sekarang ini semakin berkembang dengan pesatnya. Dalam mendapatkan sebuah informasi juga butuh yang namanya teknologi, sedangkan Setiap orang juga pasti membutuhkan yang namanya informasi. Namun yang menjadi pertanyaan  apakah informasi yang tersebar di media itu sudah benar dan akurat? Sudahkah mengandung salah satu sifat dari Nabi yaitu sidiq yang berarti jujur/benar dan transparan?. Banyak orang yang memiliki kepentingan untuk mendapatkan profit yang banyak. Beberapa golongan baik individu maupun kelompok rela membuat informasi yang mengandung ke bohongan/hoax demi mendapatkan keuntungan yang banyak tanpa memperhatikan efek yang akan terjadi dalam masyarakat. Sedangkan dalam ajaran islam diajarkan untuk selalu berkata dan berperilaku jujur, karena dengan kejujuran hal  baiklah yang akan terjadi, seperti dalam sebuah hadis :

“Hendaklah kamu selalu jujur karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa kedalam surga.” (H.R. bukhari dan Muslim)

Sahabat Muslim, bagaimana seharusnya kita bersikap ketika mendapatkan informasi entah itu dari media maupun dari mulut individu yang belum tentu kebenarannya? Menurut penulis pribadi Ada 2 tipe orang  dalam merespon sebuah informasi, yang pertama yaitu orag yang langsung percaya begitu saja dan yang kedua yaitu orang yang tidak langsung percaya. Nah, lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tersebut. tentu saja kita harus bertabayyun terlebih dahulu. Apa makna dari tabayyu tersebut?

Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya. Nah dalam menerima sebuah informasi, kita harus menerapkan perilaku tabayyun tersebut. Karena dalam Al-Qur’an Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan tabayyun :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan kamu itu.” (Q.S.Al-Hujurat : 6)
Menurut buku Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Dar, juz XVI  Untuk menerima berita, pengetahuan akan sumber berita merupakan sesuatu yang penting. Islam, melalui surat al-Hujurat ayat 6 ini, mengajarkan bahwa sumber berita tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori : (1) ‘adil (Muslim dan tidak fasik); (2) fasiq (tidak adil). Jika sumber berita tersebut orang yang adil, yaitu orang Islam yang tidak melakukan dosa kecil atau dosa besar dengan sengaja, maka beritanya dapat diterima. Sekalipun demikian, kondisi kefasikan tersebut dapat saja terjadi pada orang Islam yang asalnya adil sehingga al-Qurthubi tetap mensyaratkan agar pihak pengambil keputusan (al-hakim), baik penguasa maupun bukan, tetap harus melakukan pengecekan terhadap berita yang diterimanya, sekalipun dari orang Islam.
Sahabat Muslim, karena sekarang ini banyak sekali tersebar berbagai informasi yang tidak akurat, kita sebagai umat islam harus pintar-pintar dalam menerima suatu informasi. lebih-lebih jika itu tenatang ajaran agama islam. Kita tidak bisa begitu saja menerima ajaran yang belum tentu kebenarannya. Karena dalam agama islam dalam menerima ajaran/ilmu harus melalui yang namanya seorang guru yang memang paham akan ajaran islam, dengan istilah lain harus mempunyai sanad/ asal usul ajaran yang jelas, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, seperti dalam sebuah hadis.
Ibnul Mubarak berkata :
”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (H.R.Muslim).
Semoga kita senantiasa menjadi umat yang cerdas dalam menerima suatu informasi, sehingga kita bisa Menjadi  umat yang menaati perintah Allah SWT. Aamiin Ya Rabb.

Referensi :
Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Dar, juz XVI
Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang akhlaq Terpuji. Jakarta : CV Megah Jaya.

Penulis :
SUKARMAN
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sembunyikanlah

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

Pernahkah kita merasa lebih nikmat manakah melakukan suatu ibadah secara terang-terangan, atau melakukannya secara sembunyi-sembunyi, dalam arti lain kita merasa lebih nyaman ketika melakukan ibadah tanpa diketahui oleh orang lain, hanya Allah dan malaikat pencatat amal lah yang mengetahuinya?

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Q.S. Al-An’am : 162-163)

Dizaman yang semakin canggih dan serba tekhnologi ini, hampir semua orang memiliki akun sosial media, baik itu Facebook, instagram, Youtube, Path, WhatssApp dan lain sebagainya, namun sebagian orang tidak bisa menggunakan akun sosial media mereka dengan baik dan benar, disini saya tidak menuduh seseorang ataupun golongan tertentu, penulis hanya mengamati apa yang telah terjadi belakangan ini. banyak orang yang sering mengupload/mengunggah foto maupun video tentang kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya, misal shalat, sedekah, naik haji dan lain sebagainya. Orang berlomba-lomba dalam mengeshare hal-hal yang bisa mendongkrak dan menarik perhatian orang lain untuk memuji akan eksistensinya dalam berbuat kebaikan, sedangkan niat orang melakukan hal itu bermacam-macam. Ada yang mempunyai niat hanya ingin eksis disosial media, ada pula yang berniat ingin pamer kepada orang lain. Namun setiap individu pasti mempunyai niat yang berbeda-beda, hanya individu yang bersangkutan dan Allah lah yang mengetahuinya. seperti dalam sebuah hadis :

“Bahwasanya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang memperoleh menurut apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia yang ingin didapatkannya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ditujunya “. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tarmidzi dan An-Nasa’I)

Dalam tulisan ini penulis tidak bermaksud menjudge orang lain riya’ atau pamer dengan kebaikan yang  diperlihatkannya di sosial media, mungkin penulis juga masih sering melakukan hal tersebut, namun yang perlu kita garis bawahi bersama adalah niat  yang harus dikemas dengan baik, harus diniatkan hanya Lillahi ta’ala. Sesungguhnya mengambil sikap beramal dengan menyembunyikannya lebih disukai oleh Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bertaqwa lagi kaya dan menyembunyikan amalnya” (H.R.Muslim)

Menurut pengalaman yang penulis rasakan, banyak orang yang lebih merasa menyesal ketika tidak bisa mengunggah foto tentang kebaikan yang telah dilakukannya  kesosial media daripada melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi. Boleh-boleh saja mengabadikan suatu amal kebaikan itu di media sosial yang diniatkan agar orang yang melihat dokumentasi tersebut tergerak hatinya untuk melakukan kebaikan juga, tetapi disini penulis sekedar mengingatkan jangan sampai kebaikan yang kita unggah disosial media itu dengan niat utama untuk menunjukkan eksistensi diri, agar orang lain memuji diri kita, namun sekali lagi diniatkan untuk berdakwah kepada orang lain melalui media, karena jika kita berdakwah atau mengajak orang lain berbuat baik, maka akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, seperti sebuah hadis :

“Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakannya” (H.R.Muslim)

Sahabat Muslim, mari kita sama-sama membenahi niat kita, dizaman yang semakin canggih ini jangan sampai diri kita terbawa  kepada laknatullah, karena segala apa yang kita niatkan itu akan kembali kepada apa yang kita niatkan. Jika kita berniat mengejar akhirat, maka dunia akan mendekati kita. namun jika kita hanya mengejar dunia, maka akhirat akan meninggalkan kita dan belum tentu dunia bisa kita dapatkan.


Referensi :

Asmuni syukir. 1998. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya : Al-Ikhlas


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Senin, 14 Agustus 2017

Qona'ah

0 Comments

Bismillahirrahmanirrahiim

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT.

Dalam kehidupan ini, banyak orang  berlomba-lomba mengejar karir demi mendaptkan harta yang banyak, jabatan yang tinggi, kedudukan yang  mulia dimata manusia, namun melupakan bagaimana seharusnya beribadah untuk mengejar akhirat dan mendapat kedudukan yang mulia dimata Allah SWT. Dalam mengejar karir dilapangan kerja, tidak luput dari yang namanya kerja keras, usaha yang maksimal, dan tidak lupa doa yang terus dipanjatkan. Namun, ketika hasil yang didapat tidak seperti apa yang kita inginkan, apakah akan merasa ini tidak adil? Dalam kehidupan ini, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memiliki sifat Qona’ah karena hanya dengan Qona’ah lah hati kita akan merasa lapang dan akan menjadi golongan orang-orang yang beruntung, seperti haids yang berbunyi :

“Dari Abdillah bin Amr sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; “Sungguh beruntung orang yang masuk islam dan mendapat riski yang cukup dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya.” (HR Muslim)

Qana’ah menurut bahasa adalah merasa cukup atau rela, sedangkan menurut istilah ialah  sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang.

Sifat Qona’ah bukan berarti diam tanpa berusaha, namun juga disertai dengan usaha, ikhtar semaksimal mungkin, berdoa dan menyerahkan segalanya  kepada Allah, bagaimanapun hasil yang kita dapatkan harus disyukuri, harus kita terima, tidak boleh mengeluh apalagi sampai menyalahkan Allah SWT, Karena semua apa yang kita dapatkan semata-mata adalah pemberian dari Allah.

Memiliki sifat Qona’ah, sangatlah diperlukan, karena di dunia ini kita akan mendapatkan yang namanya ujian atau musibah dari Allah SWT, dengan Qona’ah, kita bisa menerima dengan ikhlas dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Entah itu baik maupun buruk bagi diri kita, karena memang Allah akan menguji keimanan kita dengan hal-hal yang demikian. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 155 :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqoroh : 155)

Contoh dari perilaku orang yang mempunyai sifat Qona’ah tentunya sangat banyak, beberapa contohnya sebagai berikut: rajin bekerja dan berusaha semaksimal mungkin , menerima dengan hati yang ikhlas dan lapang ketika hasil yang didapatkan tidak sesuai keinginan , tidak mudah putus asa, tidak serakah, tidak tamak dan lain sebagainya

Nah Sahabat Muslim, sudahkah kita merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan sekarang? Apakah kita sudah bisa menerima dengan ikhlas pemberian Allah SWT? Memiliki sifat Qona’ah memang membutuhkan latihan dalm kehidupan sehari-hari. Perlu penanaman sejak dini untuk bisa terbisa berperilaku Qona’ah , namun tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki kesungguhan, insya Allah, Allah akan membantu kita mencukupkan riski kita dan melapangkan hati kita untuk senantiasa ikhlas menerima apa yang Allah berikan kepada kita. karena Qona’ah merupakan simpnan yang sangat berharga.

“Al qona’atu kanyullayaghna” ; “Qona’ah adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap” (H.R Ath-Thabrani)

Referensi :
Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Terpuji. Jakarta : CV Megah Jaya


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 30 Juli 2017

Ketamakan Menggelapkan Hati

0 Comments

Sahabat muslim yang dirahmati Allah

Dalam kesempatan kali ini, penulis akan sedikit membahas tentang “Tamak”, apa pengertian dari tamak itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Tamak” memiliki arti selalu ingin memperoleh sesuatu yang banyak untuk diri sendiri. Tamak bisa disamakan dengan serakah atau rakus yang sama-sama bermakna negative dimana orang yang tamak selalu ingin mendapat lebih daripada orang lain.

Orang yang memiliki sifat tamak terhadap duniawi akan menyebabkan orang tersebut diperbudak oleh dunia, apa-apa yang dia lakukan dalam kehidupan sehari-hari akan terlihat seperti orang yang tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Misalnya, dalam urusan harta orang yang tamak ingin selalu  mendapatkan harta yang banyak daripada orang lain, meskipun itu keluarganya sendiri. Saat menikmati hidangan dan makanan, orang yang tamak ingin selalu memperoleh bagian yang lebih banyak daripada orang lain, sehingga dia akan merasa  puas dan kenyang, dan masih banyak contoh perilaku tamak yang lainnya.

Ketamakan itu sangat dibenci oleh Allah dan Rosulullah SAW, karena ketamakan dapat mengakibatkan hati seseorang menjadi tidak tenang karena selalu dikejar-kejar nafsu untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya meskipun harus menempuhnya dengan cara yang haram. Ketamakan juga bisa membuat hilangnya kebijaksanaan dan hatinya para ulama. Seperti sebuah hadis:

“Ketamakan akan menghilangkan kebijaksanaan dan hati para ulama
(H.R Ath_thabrani)

Seorang Guru, dosen, ustadz, kyai, jika mempunyai sifat dan perilaku Tamak pun masih bisa berbuat kesalahan, apalagi kita yang orang awam,  terkadang masih terjerumus kedalam nafsu duniawi yang menggelapkan hati.

Sahabat Muslim, sudahkah kita menghilangkan sifat dan perilaku tamak dari dalam diri kita?, ataukah kita masih sering merasa ingin memperoleh sesuatu yang lebih banyak daripada orang lain? Ingatlah sahabat, bahwasanya Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk memiliki harta yang banyak,  namun Allah lebih senang jika hambanya memiliki harta yang tidak bisa dinilai oleh uang, yaitu kekayaan jiwa. Seperti sebuah hadis:

“Kekayaan bukan banyaknya harta benda yang dimiliki, akan tetapi kekayaan jiwa (H.R Al-Bukhari)

          Sahabat Muslim, marilah kita senantiasa membenahi diri kita masing-masing, berusaha untuk menghindari sifat dan perilaku tamak yang dibenci Allah ini, dengan cara apa?, banyak cara yang bisa kita lakukan, salah satunya kita bisa belajar untuk menjadi orang yang pemurah. Orang yang senantiasa berusaha menjadi orang yang bermurah hati, maka sifat tamak itu perlahan-lahan akan lenyap. Selain itu kita juga akan mendapatkan kemurahan dari Allah SWT. Seperti dalam sebuah hadis:

“Kemurahan hati adalah dari (harta) kemurahan hati dan pemberian Allah. Bermurah hatilah, niscaya Allah akan bermurah hati kepadamu”
(H.R.Ath-Thabrani)

Selain itu orang yang pemurah, akan terhindar dari api neraka, seperti dalam sebuah hadis :

“Orang yang bermurah hati adalah dekat dengan Allah, dekat dengan sekalian manusia dan jauh dari api neraka” (H.R.Tirmidzi)


Referensi :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Akhlak Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya



Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 
back to top