Senin, 17 Oktober 2016

Memupuk Taqwa

0 Comments
sumber : hajianton.com
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah

          Berbicara tentang taqwa, perlu kita ketahui bersama apa pengertian taqwa itu. Secara garis besar pengertian taqwa ialah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Namun dalam pengertian lain, Taqwa juga bisa diartikan meninggalkan segala sesuatu selain Allah dan orang yang bertaqwa artinya orang yang dapat memelihara dirinya dari menuruti hawa nafsu.

          Dalam Al-qur’an, Allah SWT pun sering menggunakan kata Taqwa yang menjadi tujuan akhir dari semua apa yang kita lakukan. Misalnya dalam Al-qur’an surat Al-baqoroh ayat 183 yang berbicara tentang wajibnya puasa. Kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk berpuasa agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa.

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”

          Kata taqwa, merupakan akhir dari tujuan kita berpuasa dibulan ramadhan. Begitupun dalam ibadah-ibadah lainnya. Takqwa merupakan tujuan kita melakukan suatu ibadah, karena denga taqwa kita akan mendapatkan keridhoan dari Allah SWT.

          Taqwa itu ibarat sebuah pohon yang harus kita pupuk, agar taqwa bisa semakin tumbuh subur dan tidak dihampiri penyakit-penyakit yang dapat menggerogotinya. Adapun beberapa ikhtiar yang dapat kita lakukan untuk memupuk taqwa tersebut yang penulis kutip dari sebuah buku yang berjudul Taqwa Penyelamat Umat karya dari Drs. Zahri Hamid, antara lain sebagai berikut :

·        Ikhlaskan hati

Hati yang ikhlas merupakan landasan jiwa yang mulia, ketika kita melakukan segala hal haruslah dilandasi dengan hati yang ikhlas. Allah SWT pun juga memerintahkan kita untuk senantiasa beribadah dengsn ikhlas hanya untuk Allah SWT.

“Inna sholatii wanusukii wamahyaaya wamamatii lillahirobbil’alamiin”

“sesunnguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah tuhan semesta Alam”

     Dengan hati yang ikhlas maka insya Allah derajat taqwa itu akan kita dapatkan, karena hanya dengan hati yang ikhlaslah, Allah akan melihat kita dan memberikan ketaqwaan itu kepada kita.

·        Tanamkan rasa Syukur

“Fabi ayyi alaa i robbikuma tukaddziban”,  Nikmat mana lagi yang akan kita dustakan, setelah begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita. kita tak pernah menghitung betapa banyaknya kenikmatan yang kita dapatkan sejak kita diciptakan. Ketika nikmatnya kita berada dirahim ibu, kita tak perlu susah-susah mencari makanan, kita tidak perlu untuk bergerak kesana kemari, sampai akhirnya kita terlahir didunia ini, nafas yang Allah berikan, harta yang Allah berikan, kesehatan yang Allah berikan, tak pernah kita dapat menghitungnya, maka pantaskah jika kita tidak bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kita begitu banyak kenikmatan ini.

·        Tanamkan jiwa tawadlu’

Merasalah menjadi makhluk yang hina dihadapan Allah Dzat Yang Maha Tinggi, Dzat yang menciptakan seluruh apa yang ada di jagad raya ini. Merasalah kita ini adalah makhluk yang sangat lemah dan tak berdaya dihadapan Allah, Karena kita ini hanyalah makhluk ciptaan-Nya yang tiada daya kekuatan tanpa pertolongan Allah. Dengan demikian, maka akan timbullah dihati kita jiwa yang bertaqwa yang selalu takut kepada Allah SWT.

·        Bertaubat

Bertaubatlah menyesali diri kita karena kita sudah terlalu banyak melakukan kesalahan, kita tak pernah tahu kapan kita melakukan kesalahan, terkadang kita tak sadar ketika kita melakukan kesalahan dihadapan Allah SWT, hal yang sepele pun terkadang kita hanya meremehkannya. Maka agar taqwa kita bisa terpupuk dan terus terjaga, marilah kita berbanyak memohon ampun kepada Allah SWT.

·        Tanamkan rasa Kauf (takut)

     Tanamkanlah dalam hati kita rasa takut kepada Allah, rasa takut akan murka Allah kepada kita, sehingga dalam setiap tindakan yang akan kita laukan kita senantiasa berhati-hati dalam bertindak, memikirkan hal itu matang-matang jangan sampai hal yang kita lakukan mendatangkan murka Allah SWT.

·        Bersabar

     Bersabar bukan hanya ketika kita mendapatkan musibah saja, tetapi, sepaham penulis sabar itu dibagi menjadi tiga, yakni, sabar dalam ketaatan kepada Allah, yaitu ketika kita beribadah kepada Allah kita harus mempunyai sifat sabar dalam melaksanakannya, ketaatan yang harus kita pertahanakan, seperti misalnya shalat, kita harus bisa bersabar dalam mendirikan shalat, kita tidak boleh tergesa-gesa, dan kita harus melaksanakan shalat itu tiada putus sampai saatnya kita dishalatkan. Yang kedua, sabar dalam kemaksiatan, artinya kita harus bersabar dalam menahan diri kita dari melakukan kemaksiatan. Yang ketiga, sabar dalam menerima takdir. Kita harus bersabar ketika kita mendapatkan musibah dari Allah SWT, karena itu adalah ketetapan yang telah Allah  berikan kepada kita, dan pastilah dibalik musibah itu maka kita akan medapatkan hikmah yang teramat sangat berharga.

     Dengan sikap-sikap yang kita lakukan diatas, insyaAllah hal itu akan membuat ketaqwaan kita kepada Allah SWT semakin terpupuk, semakin kokoh, dan terhindar dari segala penyakit hati. Aamiin.

Sumber ;

Hamid, Drs. Zahri. 1975. Taqwa Penyelamat Umat. Yogyakarta Lembaga Penerbit Ilmiah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Taubat Sebelum Terlambat

0 Comments
sumber : Play.google.com
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT,

            Manusia, merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling mulia diantara makhluk  lain.  Dalam Al-qur’an surat At-Tin ayat 4 Allah berfirman :

“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Allah SWT telah menciptakan manusia disertai dengan nafsu dan akal, supaya manusia dapat berbuat amal kebaikan lebih banyak. Maka, patutkah kita selalu inkar kepada Allah?, patutkah kita tidak taat kepada Allah?

Sahabat Muslim, terkadang kita berpikir manusia itu memanglah makhluk yang lemah, makhluk yang tak pernah luput dari kesalahan dan dosa, bahkan dosa itu merupakan fitrah daripada manusia, yang selalu mengiringi manusia. Allah SWT menciptakan dosa, tetapi Allah SWT juga menciptakan pahala. Ketika manusia berbuat kesalahan dan dosa, Allah SWT masih memberi jalan keselamatan bagi hamba-Nya dengan cara membuka pintu taubat. Betapa kasih sayang Allah itu begitu luas, sehingga Dia masih sudi memberikan kesempatan kepada hamb-Nya yang berlumuran dosa untuk membersihkan diri dari dosa dengan cara bertaubat.

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudia ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S.An-Nisa:110)

            Manusia memanglah makhluk yang paling tidak pernah puas dengan apa yang telah diberikan Allah kepadnya. Ketika manusia merasa tidak puas, maka ia akan  berusaha untuk menemukan hal-hal baru yang akan membuat dirinya merasa puas, dengan demikian, terkadang hati manusia  tertutup oleh keburukan yang dilakukannya, sehingga kehilangan jalan lurus, jalan yang telah ditunjukan oleh Rosululloh, dan terperosok kedalam jurang yang penuh dengan dosa.

            Tetap ingatlah sahabat muslim, Allah masih selalu memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya yang berusaha membersihkan diri dari dosa, maka janganlah kita berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah. Karea Allah SWT berfirman :

“Katakanlah : “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sndiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S.Az-Zumar : 53)

Manusia memanglah makhluk yang tak pernah luput dari dosa, tetapi karena dosa itulah terkadang kita bisa sadar dan mau merubah diri kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Allah sangat menghargai hamba-hamba yang berdosa tapi mau untuk bertaubat, karena Allah pun akan memaafkan kesalahan-kesalahan kita.

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka…” (Q.S.As-Syura : 25)

            Kemudian muncul dibenak kita, taubat yang bagaimana sih yang akan diterima oleh Allah SWT?. Sahabat Muslim, memanglah taubat itu hanya diri kita dan Allah saja yang tahu. Jika kita benar-benar ingin bertaubat dari dosa-dosa kita yang kita perbuat, kita harus meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan menuju kepada hal-hal yang dicintai-Nya baik secara dhohir maupun batin. Selama nafas masih berdesah, selama jantung kita masih berdetak, segeralah kita memohon ampunan kepada Alloh SWT, dengan Taubatan nasuha, taubat yang sesungguhnya,  insya Allah kita akan termasuk kedalam golongan orang-orang yang beruntung. Aamiin.

            Sahabat Muslim, adapun hal-hal yang harus kita lakukan ketika kita benar-benar ingin bertaubat, penulis mengambil referensinya dari sebuah buku berjudul “Taubat Surga Pertama Anda” karya dari Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Al-Hamd, diantaranya:
ü  Meninggalkan perbuatan dosa
ü Menyesali apa yang pernah dilakukan, minimal ada perasaan menyesal terhadap perbuatan itu. Adapun kuat dan lemahnya penyesalan, tergantung dari kualitas taubat.
ü  Mengetahui kehinaan perbuatan dosa.
ü  Keinginan keras dalam hati untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat itu lagi.
ü  Memperbaiki apa saja yang mungkin dikerjakan, seperti mengembalikan barang yang diambil dan yang semisalnya.
ü   Taubat hanya boleh dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT.
ü  Taubat hendaknya dilakukan sebelum napas sampai tenggorokan.

ü   Taubat hedaknya dilakukan sebelum matahari terbit dari barat (kiamat)

Semoga kita selalu diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk  bisa terus berusaha menjauhi dosa-dosa dan dipermudah dalam melakukan amal kebaikan, Aamiin.

Referensi :

Al-Hamd, Syeikh Muhammad Bin Ibrahim. 2007. Taubat Surga Pertama anda. Jakarta : Pustaka Imam Asy-Syafi’i


Penulis

SUKARMAN

Anak Asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 02 Oktober 2016

Pentingnya Shalat Jamaah

0 Comments
Sumber : Manhajuna.com

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

            Pentingnya shalat berjamaah, Allah SWT memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat secara berjamaah. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

“dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu” (Q.S An-nisa ; 4)

            Shalat berjamaah merupakan perintah yang sangat istimewa bagi kita umat islam. Komparasinya dengan shalat yang hanya dilakukan sendirian (munfarid) dengan shalat berjamaah sangatlah jauh. Jika kita melaksanakan shalat hanya sendirian (munfarid), maka kita hanya akan mendapatkan 1 fadhilah (derajat), sedangkan jika kita melaksanakan shalat secara berjamaah, maka fadhilah yang akan kita dapatkan adalah 27 derajat.

            Seperti sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar secara marfu’ :

“Shalat jamaah lebih afdhol daripada shalat sendirian dengan tingkat kefadhilahan 27 derajat “ (H.R.Muttafaqun alaih)

            Rosulullah SAW sangat menganjurkan kita umatnya untuk selalu melaksanakan shalat secara berjamaah, bahkan ketika ada seorang laki-laki buta yang sulit untuk pergi ke masjid, tetapi ketika ia masih mendengar suara adzan, maka ia tetep diperintahkan untuk shalat berjamaah di Masjid.

Seperti sebuah hadis narasi dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya laki-laki tunanetra datang menghadap Rosulullah SAW lalu ia berkata “Wahai Rosulullah, aku tidak memiliki penuntun yang mau menuntunku pergi kemasjid.” Lalu ia meminta diberi keringanan (untuk tidak ikut shalat berjamaah di masjid Nabi), Nabi pun memberinya keringanan. Namun begitu ia membalikkan badan, beliau langsung memanggilnya dan berkata kepadanya, “Apakah kau mendengar panggilan” ia menjawab “Ya”, Beliau menukas, “kalau begitu penuhilah (panggilan adzan)” (H.R.Muslim).

Jika tunanetra saja tetap diperintahkan oleh Rosulullah SAW untuk melaksanakan shalat berjamaah, maka kita yang Alhamdulillah diberikan Allah kesempurnaan (fisik), pastilah kita harus melaksanakan shalat secara berjamaah. Hal ini dimaksudkan tidak lain adalah betapa pentingnya shalat berjamaah itu sendiri.  shalat berjamaah mengandung nilai pembiasaan diri untuk patuh, bersabar, berani, dan tertib aturan, disamping itu niali sosial kemasyarakatan akan semakin kuat.

semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kemudahan dan kekuatan untuk bisa melaksanakan shalat berjamaah, sehingga kita akan mendapatkan kefadhilahan yang lebih besar daripada kefadhilahan kita yang hanya shalat sendirian(munfarid). Aamiin


Referensi :

Prof.Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Prof.Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. 2009. Fiqih Ibadah. Jakarta : Amzah.



Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarata dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jumat, 30 September 2016

Iman itu Labil

0 Comments
Sumber : islamalternatif.com

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT,

          Berbicara tentang iman. Pastilah kita semua sudah mengetahui apa itu iman, sejak duduk dibangku sekolah dasar kita pasti pernah di beri mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang didalamnya pasti mengajarkan kepada muridnya tentang apa pengertian iman itu.

          Pada dasarnya iman ialah percaya atau yakin. Kita juga pasti sudah mngetahui bahawasanya unsur-unsur iman itu ada 6, yaitu iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada Rosul, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada takdir baik maupun buruk.

          Berkaitan dengan iman ini, kita senantiasa diperingatkan Allah SWT dalam Al-Qur’an  untuk  selalu meningkatkan iman kita setiap saat,  karna pada dasarnya iman itu bersifat labil, bisa berubah-ubah, bisa naik dan juga bisa turun.

          “Iman itu kadang naik, kadang turun, maka perbaruilah iman kalian dengan la ilaaha illalloh” (H.R Ibn Hibban dalam buku Quantum Hikmah karya Imam Musbikin hal 384)

          Karena iman itu sangat rapuh, maka kita harus senantiasa menjaganya, meningkatkannya, dan memperbaruinya. Dengan cara apa..?? yaaa pastilah banyak cara yang bisa kita lakukan agar iman kita semakin bertambah, misal memperbanyak berdzikir mengingat Allah, sering-sering membaca Al-Qur’an, berpuasa, dan lain sebagainya.

          Selain itu, ternyata klasifikasi iman itu sangat banyak lho, iman memiliki banyak cabang, yang paling tinggi ialah iman kepada Allah SWT, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan benda yang menghalagi jalan.

“Iman itu ada Tujuh puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan la ilaaha ilallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang dari keimanan” (H.R Bukhari dan Muslim)

          Menyingkirkan sesuatu yang menhalangi jalan itu memiliki makna yang sangat luas, bukan hanya benda-benda yang menghalangi jalan saja, tetapi ketika kita bisa menghilangkan masalah ataupun kesulitan orang lain, maka itu pun juga merupakan bagian dari cabang iman. Misalnya ketika teman kita membutuhkan bantuan, kemudian kita berusaha menolongnyaa, maka kita telah melakukan hal yang bisa meningkatkan iman kita.


Cabang iman lainnya yaitu Malu. Semua orang pasti mempunyai rasa malu, hanya setiap orang berbeda-beda cara mengatur rasa malunya itu. Ada yang malu pada tempatnya, yakni malu ketika melaukan maksiat dan dosa dihadapan Allah SWT, ada yang hanya malu ketika aibnya diketahui org lain saja, bahkan ada orang yang tidak punya rasa malu mengumbar aurat dan melakukan maksiat dimana-mana. Naudzubillah.

          Kita sebagai kaum muslim yang tahu akan esensi dari rasa malu itu pasti akan senantiasa menjaga tingkah laku kita, menjaga perbuatan kita, supaya bisa selalu berusaha menjaga sikap untuk tidak melakukan kesalahan yang akan menyebabkan rasa malu itu muncul, baik itu dihadapan Allah SWT maupun dihadapan sesama manusia. Nah,dengan malu pada tempatnya itulah juga merupakaan salah satu cara agar bisa membuat iman kita semakin bertambah.

          Marilah kita semua selalu berusaha meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT, bukan hanya agar kita mendapatkan pahala, tetapi agar kita juga mendapatkan ridho Allah SWT. Aamiin.


Referensi :

Musbikin, Imam. 2009. Quantum Hikmah. Yogyakarta : Mitra Pustaka.


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kamis, 15 September 2016

Mengapa KIta Harus Bersedekah?

0 Comments

Sumber : Klik4info.com

Sahabat  Muslim yang dirahmati Allah SWT.

Sedekah merupakan suatu amal soleh yang sangat diperintahkan dan dianjurkan dalam agama Islam.  Sedekah dapat mengatasi berbagai masalah, seperti kemiskinan, keserakahan, kerakusan, dan sedekah juga bisa membuat tali silaturahmi antar sesama menjadi lebih erat.

          Selain itu, sedekah ternyata dapat membuat doa kita bisa terkabul dan bisa membebaskan kita dari berbagai kesulitan hidup yang kita hadapi, seperti sebuah hadis yang meriwayatkan :

“Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya, hendaklah ia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain”. (H.R Ahmad)

Nah, cara mengatasi kesulitan orang lain itu salah satunya dengan kita melakukan sedekah kepada orang lain. Sedekah itu bukan hanya berupa materi aja lho, tetapi setiap perbuatan baik itu juga dinamakan sedekah, bahkan kita tersenyum itu pun juga sudah merupakan sedekah, seperti sebuah hadis :

“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan ‎gharib” Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib)1

          Dalam buku yang berjudul “Sedekah Membabi Buta” karya dari Edi Sutisna menyebutkan bahwa ada beberapa alasaan juga mengapa Rosulullah SAW menganjurkan kita untuk bersedekah :

Ø Jika kita bersedekah, menginfakkan harta kita kepada orang yang berhak menerima, maka Allah pun akan memberi nafkah/harta kepada kita.
\
Allah SWT berfirman (didalam hadis Qudsi)
“Hai anak Adam, berinfaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku akan memberikan nafkah untukmu” (HR. Muslim)

Ø Sedekah merupakan amal yang akan tetap terus mengalir pahalanya walaupun kita sudah meninggal.

“Apabila anak Adam wafat, putuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu Sodakoh jariyah, ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, dan anak soleh yang mau mendoakannya” (HR. Muslim).

Ø Sedekahlah walaupun hanya dengan sebutir kurma, karena itu akan menjauhkan kita dari api neraka.

“Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sedekah sebutir kurma”. (HR.Mutafaq’alaih)

Ø Sedekah dapat mempermudah datangnya rizki.

“Turunkanlah (datangkanlah) rizkimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah”. (HR.Albaihaqi)/ menjemput rizqi.

Ø Sedekah dapat membuat kita mendapat naungan dari Allah SWT kelak pada hari kiamat.

“Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya” (HR. Ahmad)

Ø Sedekah adalah kewajiban bagi setiap Muslim.

Para sahabat bertanya kepada Rosululloh SAW tentang kewajiban sedekah jika kita tidak mempunyai harta, para sahabat bertanya : “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi SAW menjawab, “bekerja dengan keterampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersedekah”. Kemudian para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana kalau dia tidak mampu?”, Nabi SAW menjawab, “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya”, Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?”, Nabi menjawab, “Menyuruh berbuat yang ma’ruf”, Mereka bertanya lagi, “Bagaimana jika dia tidak melakukannya”, Nabi menjawab “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah” (HR. Bukhari dan Muslim)

          Sahabat Muslim, sebegitu pentingnya sedekah bagi kita, sehingga Allah dan Rosul pun memerintahkannya untuk kita lakukan, karena dibalik sedekah ternyata menyimpan banyak manfaat yang akan kita dapatkan.

Referensi :

Sutisna, Edi. 2013. Sedekah Membabi Buta. Jakarta Selatan : Zahira.



Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Selasa, 13 September 2016

Islam Adalah Kedamaian

0 Comments
Sumber : Icrp-online.org
Sahabat Muslim yang dirahmati llah SWT.

Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman :

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil” (Q.S Al-Maidah : 8)

          Sahabat Muslim, dalam era sekarang ini, dunia semakin tua, semakin lemah dan semakin mendekat hari akhir kehidupan. Dalam duni islam sekarang ini, telah muncul berbagai pandangan dan ideologi  yang ekstrem yang menimbulkan banyak orang  beranganggapan  bahwa agama islam adalah agama yang menyebabkan kekacauan, kebencian, dan kehancuran di dunia. Minoritas Muslim memang ada yang memiliki ideology yang berbeda  yang menyimpulkan ajaran islam hanya sepenggalan saja, yang memaknai ajaran islam tidak sesuai dengan maksud islam itu sendiri. Selain itu, kelompok-kelompok yang menghancurkan nama islam, misalnya ISIS yang berkedok Islam, mengatasnamakan islam, tetapi ternyata apa yang dilakukannya sama sekali tidak mencerminkan islam, justru mereka adalah orang-orang yang menyudutkan agama  islam, membuat islam dimata dunia menjadi buruk. Kita sebagai Muslim yang mengerti tentang ajaran islam, yang mengetahui bahwa asal kata islam adalah dari kata “Salam” yang berarti “Kedamaian” harus lebih berhati-hati dalam bertindak dalam berbuat apa pun, jagan sampai kita malah berbuat kerusakan, kehancuran, dan menebar kebencian didunia.

          Mayoritas orang setelah munculnya ISIS yang mengatasnamakan islam tetapi menebar terror dimana-mana menjadi beranganggap bahwa islam adalah penyebab mereka melakukan semua ini, ada yang beranggapan bahwa islam mengajarkan umatnya untuk membunuh dan memerangi orang yang berbeda agama. Tetapi pada kenyataannya itu adalah salah besar. Islam tak pernah mengajarkan bahwa Muslim harus memerangi oranang-orang kafir, tetapi islam justru mengajarkan kepada umatnya untuk tidak menyakiti dan memerangi orang kafir yang tidak mengganggu. Bahkan islam mengajarkan umatnya untuk melindungi orang-orang kafir yang meminta perlindungan. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Dan jika seseorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkanmereka kaum yang tidak mengetahui” (Q.S At-Taubah : 6)

          Dalam penggalan dua ayat diatas menegaskan bahwasaya islam adalah agama yang membawa kedamaian, islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk saling toleransi terhadap orang-orang yang beragama lain, Islam mengajarkan umatnya untuk bisa berbuat baik kepada orang lain sekalipun itu orang kafir selagi mereka tidak mengganggu kita, kita dilarang untuk mengganggunya. Jika mereka memulai perang terlebih dahulu, maka kita diperbolehkan untuk memeranginya dengan maksud untuk membela agama Allah bukan berarti Islam adalah agama yang menyukai perang.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah: 190)[1]

          Al-Qur’an memperbolehkan umatnya untuk memerangi orang-orang kafir yang memerangi umat islam, hal itu bertujuan untuk membela agama Allah, tetapi islam pun melarang untuk memeranginya secara berlebihan, karena berlebihan adalah sifat dari syaithon.

Referensi :

Mansur, Suf’at. 2012. Toleransi Dalam Agama Islam. Yogyakarta : Harapan Kita.


Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Selasa, 30 Agustus 2016

Hikmad dan Fadhilah Berkurban

0 Comments
sumber : m.galamedianews.com
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT,

            Hari raya idul adha atau hari raya qurban merupakan salah satu hari besar umat islam yang selalu diperingati pada tanggal 10 dzulhijah dimana semua umat islam menyambutnya dengan suka cita, karena pada hari itu umat islam saling berbagi dengan hewan qurban yang mereka sembelih. Yang kaya memberi yang miskin, dan yang miskin menerima dari yang kaya. Semua itu adalah suatu amalan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mempererat tali persaudaraan antar umat islam.

            Berkurban merupakan suatu amalan yang dapat menjadikan diri kita lebih dekat dengan Allah SWT. Seperti halnya arti dari kurban itu sendiri. Dalam kitab Taju Al-Arusy min Jawahiri Al-Qamus yang tercantum dalam buku berjudul “Tuntunan Berkurban dan Menyembelih Hewan” karya dari Ali Ghufron Lc, menjelaskan bahwa arti dari kurban (Al-Qurban), dengan huruf Qof yang dibaca dhamah berarti sesuatu yang dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Al-Laits mengatakan bahwa Al-Qurban aalah sesuatu yang engkau gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT demi meraih kedekatan dan wasilah.

            Sahabat Muslim, kita tentu telah mengetahui bahwa sejarah adanya kurban adalah ketika dua putra dari Nabi Adam As, yakni Habil dan Qobil diperntahkan oleh Allah SWT utuk melakukan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27 yang artinya :

“ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam (Habil dan Qobi) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak dierima dari yang lainnya (Qobil)”. (Q.S Al-Maidah : 27)

            Dalam kisah dari Al-Qur’ani  tersebut kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang Allah berikan kepada kita lewat kisah tersebut. Kita mengetahui bahwasanya Habil merupakan hamba yang taat dan ikhlas beribadah kepada Allah SWT, sehingga ketika Habil diperintah untuk Berkurban dengan apa yang ia miliki, maka ia melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab, kemudian dipilihnya hewan qurban yang paling bagus dari ternak yang ia miliki. Sedangkan Qobil merupakan hamba yang tidak taat dan durhaka kepada Allah SWT, sehingga ketika ia diperintahkan untuk berkurban dengan apa yang ia miliki, maka ia hanya melaksanakan semaunya saja. Lantas ia hanya mengurbankan buah-buahan yang sebagian telah busuk untuk dipersembahkan kepada Allah SWT tanpa disertai rasa ikhlas, alhasil kurban dari Qobilpun tidak diterima oleh Allah SWT, dan ia termasuk golongan orang-orang yang dholim. Na’udzubillah. Maka dari itu, kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini, yakni berkurbanlah dengan rasa ikhlas hanya mengharap ridho dari Allah SWT.

            Adapun sejarah lain. Yakni ketika Nabi Ibrahim As diperintahkan oleh Allah untuk berkurban dengan cara menyembelih putranya sendiri yakni Nabi Ismail AS. Karena Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merupakan hamba yang patuh dengan perintah Allah, maka mereka melakukannya dengan ikhlas walaupun sangat berat. Tetapi ternyata Allah SWT mempunyai scenario lain, yakni pada saat nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ismail, tiba-tiba yang disembelih Nabi Ibrahim bukanlah putranya sendiri, akan tetapi seekor hewan kurban yang diberikan oleh Allah SWT sebagai ganti ketaatan dan ketakwaan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS. Menurut sejarah, hewan tersebut merupakan hewan yang dikurbankan oleh Habil putra dari Nabi Adam AS.

            Adapun beberapa Hikmah dan fadhilah yang akan kita dapatkan dari berkurban versi buku karya Ali Ghufron Lc, yang tercantum dalam bukunya berjudul Tuntunan Berkurban dan Penyembelihan Hewan” sebagai berikut :

·        Hikmah Berkurban Dari Aspek Sejarah

Dari aspek sejarah, berkurban adalah mengenang dan memperingati ketulusan dan keikhlasn dari Nabi Adam As yang rela akan menyembelih putranya sendiri demi mematuhi perintah Allah SWT, ini merupakan suatu ujian yang teramat sangat berat, tetapi Nabi Ibrahim dan Nabi ismail telah menunjukkna wujud ketaatan, ketulusan, keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah SWT, ini merupakan puncak dari ketakwaan seorang hamba. Maka dari itu sejarah yang sangat sarat akan pelajaran ini perlu selalu kita ingat-ingat dan bisa kita implementasikan dalam kehidupan kita.

·        Hikmah berkurban dari Aspek social

Dilihat dari aspek social, berkurban merupakan suatu ibadah yang dimaksudkan untuk memberi kelapangan, makanan dan menebar kebahagian kepada fakir miskin terutama, dan juga kepada semua umat islam. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 28 :

“ Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak, maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir” (Q.S Al-Hajj : 28)

·        Berkurban merupakan Amalan yang paling diintai Allah pada saat Hari Raya Idul Adha.

Imam Ath-Thabrani di dalam kitabnya Al-Mu;jam Al-Kabir juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra bahwasanya Rosulullah SAW bersabda :

“Tidaklah uang itu digunakan untuk sesuatu yang lebih diintai Allah melebihi apabila ia digunakan untuk memebeli hewan kurban untuk disembelih pada hari ‘id” (H.R Ath-Thabrani)

·        Allah Kagum Dengan Orang yang Berkurban Pada Hari Raya idul Adha

Imam Baihaqi didalam kitabnya Syi’bul Al-Iman meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rosulullah SAW bersabda :

“Tuhan kalian kagum dengan sesembelihan biri-biri yang kalian lakukan pada hari raya kalian” (H.R Al-Baihaqi)

·        Berkurban Mendatangkan Banyak Pahala

Zaid Bin Arqam menceritakan bahwa para sahabat bertanya kepada Rosulullah SAW :
“Wahai Rosulullah apa gerangan berkurban ini? Rosulullah menjawab, “ini adalah sunnah dari moyang kalian, yaitu Nabi Ibrahim AS”. Para sahabat kembali bertanya, “Apa bagian kami didalamnya, wahai Rosulullah?”, Rosulullah menjawab, “pada setiap bulunya terdapat kebaikan.” Para sahabat bertanya lagi, “kalau wol?”. Rosulullah menjawab, “pada setiap bulu dari wol itu terdapat kebaikan”. (H.R Ibnu Majjah)

            Dalam hadis diatas dijelaskan bahwa ketika kita berkurba pahala dari semua anggota tubuh hewan qurban itu terdapat kebaikan (pahala). Bahkan bagian dari bulu hewan kurban yang tak terhitung itupun kata Rosulullah SAW membuahkan pahala, jadi betapa banyak pahala yang akan kita dapatkan, tentulah sangat banyak.

            Semoga kita senantiasa dekat dengan Allah SWT denagan berusaha untuk berkurban ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT. Aamiin.


Sumber :

Ghufron Lc, Ali. 2011. Tuntuan Berkurban dan Menyembelih Hewan. Jakarta : Amzah
 
back to top