Kamis, 12 Oktober 2017

Menggapai Harapan

0 Comments

Bismillahirrahmanirrahiim
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah

Jika berbicara tentang keinginan, setiap orang pasti mempunyai keinginan yang masing-masing berusaha untuk mewujudkannya. Bisa dikatakan Mustahil jika manusia tidak mempunyai keinginan, karena pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan nafsu yang membuat manusia mempunyai  banyak keinginan.

Dalam kehidupan sehari-hari keinginan yang diharapkan oleh orang-orang berubah-ubah, keinginan untuk makan enak, keinginan untuk membeli pakaian yang bagus, rumah yang bagus, motor, mobil dan lain sebagainya. Tidak henti-hentinya manusia menginginkan banyak hal yang ingin terus mereka wujudkan. Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah setiap keinginan yang kita harapkan akan dikabulkan oleh Allah SWT?

Kesenjangan antara keinginan dan realita yang kita dapatkan terkadang diluar espektasi kita. namun Allah lebih tau kapan waktu yang tepat untuk kita bisa mendapatkan keinginan kita, karena Allah lebih tau apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya bukan hanya sekedar apa yang diinginkan oleh hamba-Nya. Terkadang kita tidak sadar sudah banyak kebutuhan hidup kita yang diberi oleh Allah SWT selama ini. ada orang sakit dan dia menginginkan kesembuhan dan kesehatan, namun kita yang sehat terkadang lupa akan nikmat ini. banyak orang yang kelaparan dijalanan karena tidak bisa makan, sedangkan kita yang mempunyai makanan terkadang masih ingin makan makanan yang lebih enak dari ini, terkadang kita lupa akan nikmat itu semua hanya karena keinginan kita tidak terwujud.

Nah, sahabat Muslim dalam kehidupan ini segala sesuatu yang ingin kita wujudkan tidak lepas dari beberapa hal , antara lain : Dzikir, Fikir, Ikhtiar, sabar dan tawakal.

Dzikir

Dzikir artinya mengingat. Kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk banyak berdzikir mengingat Allah Sang Maha Pencipta. Seperti firman Allah dalam Al-qur’an.

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab : 41)

Degan banyak berdzikir maka hati dan pikiran kita akan tenang. Keinginan-keinginan yang sifatnya hanya duniawi semata tidak akan terus mengganggu pikiran kita, karena kita serahkan semua itu kepada Allah ‘azza wajalla.

Fikir

Ketika kita mengharapkan sesuatu. Kita pasti akan memikirkan bagaimana cara supaya kita bisa mewujudkannya. Semua itu butuh yang namanya pemikiran terlebih dahulu, jangan sampai apa yang kita lakukan malah akan membuat kita menyesal dikemudian hari karena tanpa pemikiran terlebih dahulu. Dalam kehidupan ini semua apa yang berada di bumi perlu kita pikirkan, karena Allah SWT pun telah memerintahkan kita untuk selalu menggunakan akal kita jangan sampai kita hanya mempergunakan nafsu saja.

“Apakah ada salah seorang diantaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angina keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu memikirkannya.” (Q.S. Al-An’am : 50)

Ikhtiar

Ikhtiar dalam bahasa Arab berasal dari kata khair yang artinya baik. Ikhtiar adalah berusaha sungguh-sungguh dengan menempuh jalan yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu yang berlaku dalam bidang yang diusahakan, dengan disertai doa kepada Allah agar usahanya itu berhasil, karena jika kita hanya berdoa dan berpikir tanpa usaha dari diri kita sendiri maka tidak akan pernah ada action dan hasil yang kita dapatkan. Allah SWT pun memerintahkan kita untuk selalu berikhtiar, karena tanpa usaha dari diri kita sendiri maka semua tetap akan sama saja tidak ada hasil yang akan kita dapatkan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S. Ar-Ra’du : 11)

Sabar dan tawakal

Semua apa yang telah kita lakukan setelahya kita harus tawakal kepada Allah SWT, kita serahkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT. Entah hasil yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita harapkan atau tidak semua itu harus kita terima dengan sabar dan ikhlas, karena Allah lebih tau kapan kita siap untuk mendapatkan semua apa yang kita inginkan.

“kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imron : 159)

Referensi :

[1] Teungku Hasbi Ash-Shiddieqiy, Pedoman Dzikir Dan Doa, (Jakarta: Bulan Bintang,  Cet ke-llX, 1990


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Kamis, 21 September 2017

Tabayyun

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT.

zaman sekarang ini setiap orang tidak luput dari teknologi dan media sosial. Dimana teknologi sekarang ini semakin berkembang dengan pesatnya. Dalam mendapatkan sebuah informasi juga butuh yang namanya teknologi, sedangkan Setiap orang juga pasti membutuhkan yang namanya informasi. Namun yang menjadi pertanyaan  apakah informasi yang tersebar di media itu sudah benar dan akurat? Sudahkah mengandung salah satu sifat dari Nabi yaitu sidiq yang berarti jujur/benar dan transparan?. Banyak orang yang memiliki kepentingan untuk mendapatkan profit yang banyak. Beberapa golongan baik individu maupun kelompok rela membuat informasi yang mengandung ke bohongan/hoax demi mendapatkan keuntungan yang banyak tanpa memperhatikan efek yang akan terjadi dalam masyarakat. Sedangkan dalam ajaran islam diajarkan untuk selalu berkata dan berperilaku jujur, karena dengan kejujuran hal  baiklah yang akan terjadi, seperti dalam sebuah hadis :

“Hendaklah kamu selalu jujur karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa kedalam surga.” (H.R. bukhari dan Muslim)

Sahabat Muslim, bagaimana seharusnya kita bersikap ketika mendapatkan informasi entah itu dari media maupun dari mulut individu yang belum tentu kebenarannya? Menurut penulis pribadi Ada 2 tipe orang  dalam merespon sebuah informasi, yang pertama yaitu orag yang langsung percaya begitu saja dan yang kedua yaitu orang yang tidak langsung percaya. Nah, lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tersebut. tentu saja kita harus bertabayyun terlebih dahulu. Apa makna dari tabayyu tersebut?

Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya. Nah dalam menerima sebuah informasi, kita harus menerapkan perilaku tabayyun tersebut. Karena dalam Al-Qur’an Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan tabayyun :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan kamu itu.” (Q.S.Al-Hujurat : 6)
Menurut buku Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Dar, juz XVI  Untuk menerima berita, pengetahuan akan sumber berita merupakan sesuatu yang penting. Islam, melalui surat al-Hujurat ayat 6 ini, mengajarkan bahwa sumber berita tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori : (1) ‘adil (Muslim dan tidak fasik); (2) fasiq (tidak adil). Jika sumber berita tersebut orang yang adil, yaitu orang Islam yang tidak melakukan dosa kecil atau dosa besar dengan sengaja, maka beritanya dapat diterima. Sekalipun demikian, kondisi kefasikan tersebut dapat saja terjadi pada orang Islam yang asalnya adil sehingga al-Qurthubi tetap mensyaratkan agar pihak pengambil keputusan (al-hakim), baik penguasa maupun bukan, tetap harus melakukan pengecekan terhadap berita yang diterimanya, sekalipun dari orang Islam.
Sahabat Muslim, karena sekarang ini banyak sekali tersebar berbagai informasi yang tidak akurat, kita sebagai umat islam harus pintar-pintar dalam menerima suatu informasi. lebih-lebih jika itu tenatang ajaran agama islam. Kita tidak bisa begitu saja menerima ajaran yang belum tentu kebenarannya. Karena dalam agama islam dalam menerima ajaran/ilmu harus melalui yang namanya seorang guru yang memang paham akan ajaran islam, dengan istilah lain harus mempunyai sanad/ asal usul ajaran yang jelas, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, seperti dalam sebuah hadis.
Ibnul Mubarak berkata :
”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (H.R.Muslim).
Semoga kita senantiasa menjadi umat yang cerdas dalam menerima suatu informasi, sehingga kita bisa Menjadi  umat yang menaati perintah Allah SWT. Aamiin Ya Rabb.

Referensi :
Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Dar, juz XVI
Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang akhlaq Terpuji. Jakarta : CV Megah Jaya.

Penulis :
SUKARMAN
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sembunyikanlah

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

Pernahkah kita merasa lebih nikmat manakah melakukan suatu ibadah secara terang-terangan, atau melakukannya secara sembunyi-sembunyi, dalam arti lain kita merasa lebih nyaman ketika melakukan ibadah tanpa diketahui oleh orang lain, hanya Allah dan malaikat pencatat amal lah yang mengetahuinya?

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Q.S. Al-An’am : 162-163)

Dizaman yang semakin canggih dan serba tekhnologi ini, hampir semua orang memiliki akun sosial media, baik itu Facebook, instagram, Youtube, Path, WhatssApp dan lain sebagainya, namun sebagian orang tidak bisa menggunakan akun sosial media mereka dengan baik dan benar, disini saya tidak menuduh seseorang ataupun golongan tertentu, penulis hanya mengamati apa yang telah terjadi belakangan ini. banyak orang yang sering mengupload/mengunggah foto maupun video tentang kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya, misal shalat, sedekah, naik haji dan lain sebagainya. Orang berlomba-lomba dalam mengeshare hal-hal yang bisa mendongkrak dan menarik perhatian orang lain untuk memuji akan eksistensinya dalam berbuat kebaikan, sedangkan niat orang melakukan hal itu bermacam-macam. Ada yang mempunyai niat hanya ingin eksis disosial media, ada pula yang berniat ingin pamer kepada orang lain. Namun setiap individu pasti mempunyai niat yang berbeda-beda, hanya individu yang bersangkutan dan Allah lah yang mengetahuinya. seperti dalam sebuah hadis :

“Bahwasanya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang memperoleh menurut apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia yang ingin didapatkannya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ditujunya “. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tarmidzi dan An-Nasa’I)

Dalam tulisan ini penulis tidak bermaksud menjudge orang lain riya’ atau pamer dengan kebaikan yang  diperlihatkannya di sosial media, mungkin penulis juga masih sering melakukan hal tersebut, namun yang perlu kita garis bawahi bersama adalah niat  yang harus dikemas dengan baik, harus diniatkan hanya Lillahi ta’ala. Sesungguhnya mengambil sikap beramal dengan menyembunyikannya lebih disukai oleh Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bertaqwa lagi kaya dan menyembunyikan amalnya” (H.R.Muslim)

Menurut pengalaman yang penulis rasakan, banyak orang yang lebih merasa menyesal ketika tidak bisa mengunggah foto tentang kebaikan yang telah dilakukannya  kesosial media daripada melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi. Boleh-boleh saja mengabadikan suatu amal kebaikan itu di media sosial yang diniatkan agar orang yang melihat dokumentasi tersebut tergerak hatinya untuk melakukan kebaikan juga, tetapi disini penulis sekedar mengingatkan jangan sampai kebaikan yang kita unggah disosial media itu dengan niat utama untuk menunjukkan eksistensi diri, agar orang lain memuji diri kita, namun sekali lagi diniatkan untuk berdakwah kepada orang lain melalui media, karena jika kita berdakwah atau mengajak orang lain berbuat baik, maka akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, seperti sebuah hadis :

“Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakannya” (H.R.Muslim)

Sahabat Muslim, mari kita sama-sama membenahi niat kita, dizaman yang semakin canggih ini jangan sampai diri kita terbawa  kepada laknatullah, karena segala apa yang kita niatkan itu akan kembali kepada apa yang kita niatkan. Jika kita berniat mengejar akhirat, maka dunia akan mendekati kita. namun jika kita hanya mengejar dunia, maka akhirat akan meninggalkan kita dan belum tentu dunia bisa kita dapatkan.


Referensi :

Asmuni syukir. 1998. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya : Al-Ikhlas


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Senin, 14 Agustus 2017

Qona'ah

0 Comments

Bismillahirrahmanirrahiim

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah SWT.

Dalam kehidupan ini, banyak orang  berlomba-lomba mengejar karir demi mendaptkan harta yang banyak, jabatan yang tinggi, kedudukan yang  mulia dimata manusia, namun melupakan bagaimana seharusnya beribadah untuk mengejar akhirat dan mendapat kedudukan yang mulia dimata Allah SWT. Dalam mengejar karir dilapangan kerja, tidak luput dari yang namanya kerja keras, usaha yang maksimal, dan tidak lupa doa yang terus dipanjatkan. Namun, ketika hasil yang didapat tidak seperti apa yang kita inginkan, apakah akan merasa ini tidak adil? Dalam kehidupan ini, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memiliki sifat Qona’ah karena hanya dengan Qona’ah lah hati kita akan merasa lapang dan akan menjadi golongan orang-orang yang beruntung, seperti haids yang berbunyi :

“Dari Abdillah bin Amr sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; “Sungguh beruntung orang yang masuk islam dan mendapat riski yang cukup dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya.” (HR Muslim)

Qana’ah menurut bahasa adalah merasa cukup atau rela, sedangkan menurut istilah ialah  sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang.

Sifat Qona’ah bukan berarti diam tanpa berusaha, namun juga disertai dengan usaha, ikhtar semaksimal mungkin, berdoa dan menyerahkan segalanya  kepada Allah, bagaimanapun hasil yang kita dapatkan harus disyukuri, harus kita terima, tidak boleh mengeluh apalagi sampai menyalahkan Allah SWT, Karena semua apa yang kita dapatkan semata-mata adalah pemberian dari Allah.

Memiliki sifat Qona’ah, sangatlah diperlukan, karena di dunia ini kita akan mendapatkan yang namanya ujian atau musibah dari Allah SWT, dengan Qona’ah, kita bisa menerima dengan ikhlas dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Entah itu baik maupun buruk bagi diri kita, karena memang Allah akan menguji keimanan kita dengan hal-hal yang demikian. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 155 :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqoroh : 155)

Contoh dari perilaku orang yang mempunyai sifat Qona’ah tentunya sangat banyak, beberapa contohnya sebagai berikut: rajin bekerja dan berusaha semaksimal mungkin , menerima dengan hati yang ikhlas dan lapang ketika hasil yang didapatkan tidak sesuai keinginan , tidak mudah putus asa, tidak serakah, tidak tamak dan lain sebagainya

Nah Sahabat Muslim, sudahkah kita merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan sekarang? Apakah kita sudah bisa menerima dengan ikhlas pemberian Allah SWT? Memiliki sifat Qona’ah memang membutuhkan latihan dalm kehidupan sehari-hari. Perlu penanaman sejak dini untuk bisa terbisa berperilaku Qona’ah , namun tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki kesungguhan, insya Allah, Allah akan membantu kita mencukupkan riski kita dan melapangkan hati kita untuk senantiasa ikhlas menerima apa yang Allah berikan kepada kita. karena Qona’ah merupakan simpnan yang sangat berharga.

“Al qona’atu kanyullayaghna” ; “Qona’ah adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap” (H.R Ath-Thabrani)

Referensi :
Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Terpuji. Jakarta : CV Megah Jaya


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 30 Juli 2017

Ketamakan Menggelapkan Hati

0 Comments

Sahabat muslim yang dirahmati Allah

Dalam kesempatan kali ini, penulis akan sedikit membahas tentang “Tamak”, apa pengertian dari tamak itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Tamak” memiliki arti selalu ingin memperoleh sesuatu yang banyak untuk diri sendiri. Tamak bisa disamakan dengan serakah atau rakus yang sama-sama bermakna negative dimana orang yang tamak selalu ingin mendapat lebih daripada orang lain.

Orang yang memiliki sifat tamak terhadap duniawi akan menyebabkan orang tersebut diperbudak oleh dunia, apa-apa yang dia lakukan dalam kehidupan sehari-hari akan terlihat seperti orang yang tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Misalnya, dalam urusan harta orang yang tamak ingin selalu  mendapatkan harta yang banyak daripada orang lain, meskipun itu keluarganya sendiri. Saat menikmati hidangan dan makanan, orang yang tamak ingin selalu memperoleh bagian yang lebih banyak daripada orang lain, sehingga dia akan merasa  puas dan kenyang, dan masih banyak contoh perilaku tamak yang lainnya.

Ketamakan itu sangat dibenci oleh Allah dan Rosulullah SAW, karena ketamakan dapat mengakibatkan hati seseorang menjadi tidak tenang karena selalu dikejar-kejar nafsu untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya meskipun harus menempuhnya dengan cara yang haram. Ketamakan juga bisa membuat hilangnya kebijaksanaan dan hatinya para ulama. Seperti sebuah hadis:

“Ketamakan akan menghilangkan kebijaksanaan dan hati para ulama
(H.R Ath_thabrani)

Seorang Guru, dosen, ustadz, kyai, jika mempunyai sifat dan perilaku Tamak pun masih bisa berbuat kesalahan, apalagi kita yang orang awam,  terkadang masih terjerumus kedalam nafsu duniawi yang menggelapkan hati.

Sahabat Muslim, sudahkah kita menghilangkan sifat dan perilaku tamak dari dalam diri kita?, ataukah kita masih sering merasa ingin memperoleh sesuatu yang lebih banyak daripada orang lain? Ingatlah sahabat, bahwasanya Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk memiliki harta yang banyak,  namun Allah lebih senang jika hambanya memiliki harta yang tidak bisa dinilai oleh uang, yaitu kekayaan jiwa. Seperti sebuah hadis:

“Kekayaan bukan banyaknya harta benda yang dimiliki, akan tetapi kekayaan jiwa (H.R Al-Bukhari)

          Sahabat Muslim, marilah kita senantiasa membenahi diri kita masing-masing, berusaha untuk menghindari sifat dan perilaku tamak yang dibenci Allah ini, dengan cara apa?, banyak cara yang bisa kita lakukan, salah satunya kita bisa belajar untuk menjadi orang yang pemurah. Orang yang senantiasa berusaha menjadi orang yang bermurah hati, maka sifat tamak itu perlahan-lahan akan lenyap. Selain itu kita juga akan mendapatkan kemurahan dari Allah SWT. Seperti dalam sebuah hadis:

“Kemurahan hati adalah dari (harta) kemurahan hati dan pemberian Allah. Bermurah hatilah, niscaya Allah akan bermurah hati kepadamu”
(H.R.Ath-Thabrani)

Selain itu orang yang pemurah, akan terhindar dari api neraka, seperti dalam sebuah hadis :

“Orang yang bermurah hati adalah dekat dengan Allah, dekat dengan sekalian manusia dan jauh dari api neraka” (H.R.Tirmidzi)


Referensi :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Akhlak Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya



Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Senin, 17 Juli 2017

Jauhilah Perbuatan Zalim

0 Comments

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

Dalam tulisan kali ini, penulis akan sedikit membahas tentang “Perbuatan Zalim”,apa itu perbuatan zalim?,

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “Zalim” memiliki arti bengis; tidak menaruh belas kasihan; tidak adil; kejam. Menurut buku yang ditulis oleh Soleh Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Kumpulan Hadis Tentang Akhlaq Tercela”, Zalim memiliki arti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya atau sesuatu perbuatan yang melampaui batas-batas kemanusiaan dan menentag kebenaran atau ketentuan.

Selain itu, Zalim disini juga merupakan sifat yang selalu ingin menguasai hak milik orang lain dan melampaui aturan-aturan Allah. Orang-orang yang zalim selalu berusaha berbuat aniaya terhadap orang lain dengan segala cara yang ia tempuh. Padahal Allah SWT sangat membenci orang-orang yang berbuat zalim, baik itu zalim kepada-Nya, kepada makhluk lain maupun zalim kepada dirinya sendiri. Seperti dalam sebuah hadis berikut ini :

Dari Abi Dzar Ra, dari Rasulullah SAW di dalam firman-Nya Allah SWT berfirman : “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan zalim atas diri-Ku dan mengharamkan pula perbuatan itu terhadap kamu sekalian. Oleh karena itu, janganlah kamu berbuat zalim antar sesamamu” (H.R. Muslim)

Dari hadis diatas kita bisa mengambil beberpa pelajaran bahwa kita tidak boleh zalim kepada Allah, kepada diri sendiri dan kepada sesame makhluk. Dalam buku yang sama, Soleh Hidayat juga menuturkan bahwasanya ada tiga macam kezaliman, yaitu :

Yang pertama, Kezaliman seorang hamba terhadap Tuhannya
Kezaliman ini dilakukan dengan cara mengingkari Allah. Bentuk kezaliman ini juga dilakukan dengan menyekutukan Allah didalam ibadah, misalnya seperti menyembah berhala, menyembah pohon beringin, menyembah batu dan lain sebagainya. Sedangkan dalam hadis seperti yang sudah disebutkan diatas, tentang larangan zalim terhadap Allah. “Wahai hamba-Ku, Sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan zalim atas diri-Ku”

Yang kedua, Kezaliman seorang hamba terhadap hamba lainnya (makhluk Allah)
kezaliman ini dilakukan dengan cara aniaya terhadap makhluk Allah, seseorang yang berbuat zalim terhdapa orang lain biasanya orang tersebut akan berusaha membuat orang lain celaka, menyakiti, dan bahkan merusah apa yang menjadi hak orang lain. Kezaliman ini tidak hanya berlaku untuk manusia saja, namun kezaliman ini bisa terjadi kepada binatang, tumbuhan dan apa yang ada dialam semesta ini, misalnya, menyiksa binatang, merusak alam tanpa memperdulikan akibatnya dan lain sebagainya.

Yang ketiga, Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri
Kezaliman terhdapa diri sendiri adalah kezaliman yang sangat bodoh, karena apa? Tentu saja kezaliman ini akan merugikan diri sendiri. Misalnya membiarkan dirinya kotor dengan berbuat dosa dan tidak mau bertaubat, melakukan maksiat kepada Allah SWT dan membiarka diri terjerumus kedalam kesesatan.

Sahabat Muslim, apakah kita sudah menghindari perbuatan zalim tersebut? apakah ibadah kita sudah seratus persen Lillahita’ala ataukah masih karena hal lain? Apakah kita sudah banyak berbuat kebaikan antar sesama, ataukah kita masih sering menzalimi orang lain? Dan apakah kita sudah bisa melepaskan diri kita dari dosa dan kemaksiatan? Marilah sahabat Muslim, kita renungkan bersama hal ini. semoga Allah senantiasa membantu kita untuk menghindari perbuatan zalim tersebut, karena sungguh ancaman dan azab Allah bagi orang-orang yang berbuat zalim itu sangatlah pedih, seperti firman Allah dalam surat Hud ayat 102 :

“Dan begitulah azab Robbmu apabila Dia mengazab (penduduk) negri yng berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (Q.S.Hud : 102)

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah.

Untuk menghindari perbuatan zalim tersebut tentu saja hal yang harus kita perbuat antara lain sebagai berikut :

Yang pertama, Beribadah selalu dengan hati yang ikhlas Lillahita’ala, tidak karena hal lain, misal beribadah hanya ingin mendapat pujian, hanya ingin dipandang sebagai orang yang soleh, dan lain sebagainya, namun niatkanlah pada hati kita, kita beribadah bukan karena apa pun, melainkan hanya karena Allah SWT.

Yang kedua, perbanyaklah amal soleh, perbanyaklah bersilaturahmi, mempererat tali persaudaraan akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT. Seperti sebuah hadis :

“Kebaikan yang paling cepat mendapat ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan kejahatan yang paling cepat mendapatkan hukuman ialah kezaliman dan memutuskan hubungan kekeluargaan”. (H.R. Ibnu Majjah)

Yang ketiga, selalu berusaha memperbaiki diri, menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Insya Allah, dengan ini semua kita akan terhindar dari perbuatan zalim dan menghantarkan kita menjadi orang-orang yang soleh yang bertaqwa kepada Allah SWT. Aamiin Ya Robbal’alamiin


Referensi

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Tercela. Jakarta : CV Megah Jaya


Penulis

SUKARMAN

Anak Asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

          

Senin, 08 Mei 2017

Kendalikan Dirimu Ketika Marah

0 Comments
Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

Dalam hidup kita, pastilah kita pernah mengalami suatu masalah yang membuat  diri kita merasa terhina, tertekan, terancam, tersinggung, tersakiti dan lain sebagainya, yang hal tersebut dapat menimbulkan kemarahan pada diri kita.

Marah itu sebenarnya seperti bara api yang berkobar dalam hati manusia. Sangat sulit rasanya menahan amarah ketika iman kita dalam keadaan lemah. Ucapan-ucapan yang dikeluarkan orang ketika marah pun tidak pantas untuk didengar dan bahkan bisa menyakiti hati orang lain.

Sehebat-hebatnya manusia, sekuat-kuatnya manusia, tetapi jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika marah, maka hal itu percuma saja. Karena Rosulullah SAW pernah bersabda :

“Bukanlah pegulat orang yang kuat, melainkan orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (H.R. MUttafaqun ‘alaih)

          Orang yang kuat imannya , dia akan selalu berpegag teguh pada perintah Allah dan  ajaran  Nabi Muhammad SAW, dia akan senantiasa meneladani akhlaq Rosulullah, sehingga orang yang kuat imannya senantiasa berusaha untuk mengendalikan diri ketika sedang dalam keadaan marah.

Nah Sahabat Muslim, apakah kita sudah bisa mengendalikan diri kita ketika marah? atau kita masih merasa sulit untuk bisa mengendalikannya?

Telah bersabda Rosulullah SAW :

“Barangsiapa jauhkan kemrahannya, niscaya Allah akan jauhkan dari adzab-Nya” (H.R.Athabrani)

Nah sahabat Muslim, dalam hadis diatas sudah dijelaskan bahwasanya jika kita bisa menjauhkan diri dari kemarahan dan bisa mengendalikannya, maka InsyaAlloh kita akan dijauhkan dari Adzab Allah SWT.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengedalikan diri ketika marah?

Dalam buku yang berjudul “Kumpulan Hadis Tentang Akhlak Tercela” karya dari Soleh Hidayat, menyebutkan ada beberapa cara agar kita terhindar dari sifat marah, antara lain :

Ø Meyadari dengan sepenuh hati bahwasanya marah itu adalah perbuatan setan.
Ø Menyadari bahwasanya marah iu merupakan perbuatan dosa, maka kita harus selalu ingat bahwa setiap dosa itu akan dibalas oleh Allah dengan siksa.
Ø Memahami bahwa akibat dari perbuatan marah itu menjurus pada perbuatan-perbuatan yang merugikan, baik merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Ø Menyadari bahwa kita ini m  akhluk yang lemah, tempatnya lupa dan salah.
Ø Mengamalkan sifat terpuji, seperti pemaaf, sabar, jujur, dan tawakal.
Ø Berwudhu dan beristighfar karena marah itu datangnya dari setan, dan setan akan musnah dengan wudhu dan istighfar

Selain itu dalam sebuah hadis Rosulullah SAW memerintahkank kita untuk menahan amarah kita.

“Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya seorang laki-laki berkata : ‘Ya Rosulallah! Nasihatilah saya. Sabdanya ‘Janganlah engkau marah!’ lalu beliau mengulanya beberapa kali. ‘janganlah engkau marah!” (H.R.Bukhari)


Sumber :

Hidayat, Soleh. 2011. Kumpulan Hadis Tentang Perilaku Tercela. CV Megah Jaya.


Penulis

SUKARMAN

Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Senin, 17 April 2017

Tiga Inti Kebahagiaan

1 Comment

Sahabat Muslim yang dirahmati Allah,

          Dalam kehidupan, kita pasti akan mengalami yang namanya suka-duka, senang-sedih, tertawa-menangis, mendapat kemudahan maupun kesulitan, semua itu merupakan bumbu yang diberikan Allah SWT kepada kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tak ada satupun manusia yang selamanya hidup dalam kesenangan, namun ada saatnya diberi ujian yang menyedihkan, sesuatu itu pasti akan berubah, karena dunia terus berputar sampai pada batas waktu Allah menghentikan semuanya.

          Semua umat manusia pasti menginginkan yang namanya kebahagiaan, benar tidak Sahabat Muslim? Tentu saja setiap orang tidak mau mengalami kesulitan, kita sendiri pasti merasakannya bukan?, begitu juga dengan penulis artikel ini mengalami berbagai kesulitan. Tapi sahabat muslim, walaupun kita sedang dilanda kesuliatan, ada caranya lho agar kita bisa merasakan suatu kebahagiaan, mau tau caranya bagaimana? Simak penjelasan dibawah yaa..

          Menurut Imam Ibnul Qoyyim, ada tiga inti kebahagiaan, jika kita bisa menerapkannya dalam kehidupan, Insya Allah hidup kita senantiasa akan mendapat kebahagiaan :

1.     Apabila mendapat nikmat Bersyukur

Tak ada keberhasilan tanpa usaha, usaha tanpa doa adalah kesombongan. Dua kata “usaha” dan “doa”  merupakan dua hal yang harus saling melengkapi, karena keberhasilah yang didapat setiap orang tidak luput dari pertolongan Allah SWT. Jika kita ingin hidup bahagia, maka keberhasilan/kenikmatan yang kita dapatkan haruslah disyukuri. Sesuai firman Allah yang telah  memerintahkan kita untuk bersyukur :

“Maka dari itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya akau Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Q.S. Al-Baqoroh:152)

Jika kita senantiasa bersyukur, merasa cukuo dengan apa yang Allah berikan kepada kita, insya Alloh hidup kita senantiasa akan merasa bahagia.

2.     Apabila diuji bersabar

Tak ada manusia yang luput dari ujian Alloh SWT. Ujian itu ada dua hal, yaitu kenikmatan dan kesulitan.  Jika kita diberi ujian berupa kenikmatan, kita harus bersyukur dan tidak boleh mengingkari kenikmatan yang telah Allah berikan. Sedangkan jika kita diberi ujian berupa kesulitan, kesengsaraan dan musibah kita diperintahkan untuk bersabar. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan teteaplah bersiap siaga (diperbatasan negri kalian) dan bertakwalah kepada Allah suapaya kalian beruntung” (Q.S. Ali Imron : 200)

Selain memag sudah perintah dari Alloh SWT agar kita bisa bersabar, namun dengan kesabaran tersebut kita akan mendapatkan pahala dari Alloh SWT.

“Sesunggunhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Q.S.Az Zumar : 10)

3.     Apabila berbuat dosa Bertaubat

Tak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan, karena manusia diciptakan dengan nafsu baik maupun buruk, namun sebaik-baiknya manusia yang berbuat dosa ialah yang mau mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada Allah serta berjanji tidak akan melakukan dosa tersebut. Karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (Q.S.Al-Baqoroh : 222)

Sahabat Muslim, jika kita selalu mengeluh karena merasa kesulitan dan menginginkan kebahagiaan. Apakah kita sudah menerapkan tiga unsur penting diatas tadi? Apakah kita sudah bersyukur, bersabar dan bertaubat? Mulailah dari sekarang sahabat kita sama-sama belajar untuk bisa menerapkan 3 unsur penting diatas tadi agar hidup kita senantiasa mendapatkan kebahagiaan dari Allah SWT. Walaupun bukan dengan hal-hal yang mewah dan wah, namun dengan kesederhanaan dan kecukupan sudah bisa membuat kita bahagia. Karena kebahagiaan itu sederhana tak perlu mewah.

Sumber :
Aziz, Jum’ah Amin Abdul. 2015. Fiqih Dakwah. Solo : PT Era Adicitra Itermedia.

Penulis

SUKARMAN


Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta dan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
 
back to top